• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Biodiesel B20 & Tren Bio-ekonomi Dunia (IV)

“Oil palm is alternatively seen as a gift from god or a crime against humanity!” Kelapa sawit kadang dianggap berkat Tuhan atau kejahatan kemanusiaan! Begitu Adjunct Professor Erik Meijaard pada University of Queensland (Australia) dan Honorary Professor pada University of Kent (Inggris) dan koleganya Profesor Douglas Sheil asal the Norwegian University of Life Sciences (NMBU), mengawali rilis hasil riset dan kajiannya tentang sisi moral dan etika tata-kelola kelapa sawit dan pembangunan berkelanjutan pada Mei 2019.

Selasa (28/5/2019), Adjunct Professor Erik Meijaard dan Profesor Douglas Sheil merilis hasil riset empiriknya tentang budi-daya kelapa sawit zona tropik, khususnya Asia Tenggara dalam Frontiers in Forests and Global Change, 2019 (Meijaard, E.; Sheil, D. 2019, “The moral minefield of ethical oil palm and sustainable development”, Frontiers in Forests and Global Change. 2:22).

Kedua ahli budi-daya kelapa sawit itu adalah anggota IUCN (International Union for Conservation of Nature) Oil Palm Task Force di Gland, Swiss. Adjunct Professor Erik Meijaard termasuk pimpinan IUCN Oil Palm Task Force. IUCN dibentuk tahun 1948 yang terdiri wakil-wakil organisasi pemerintah dan masyarakat di seluruh dunia. Saat ini, IUCN merupakan satu jaringan kerja dari 1.300 organisasi dan 10.000 ahli lingkungan dari seluruh dunia yang menyediakan data, kajian, dan analisa konservasi lingkungan.

Seiring dengan lonjakan riset, kajian, dan analisa tentang risiko lingkungan dari tata-kelola budi-daya kelapa sawit dan tren minyak sawit sebagai nilai-tukar global yang memutar dana multi-miliar dollar AS melalui ribuan produk makanan, sabun deterjen hingga biofuel di seluruh dunia, pada tahun 2017, IUCN membentuk IUCN Oil Palm Task Force. Fokusnya ialah penyediaan dan distribusi informasi ilmiah tentang tata-kelola budi-daya kelapa sawit secara berkelanjutan --- bermanfaat bagi petani-petani skala kecil, mengentaskan kemiskinan, menghasilkan profit, dan memberi benefit atau manfaat bagi konservasi ekosistem khususnya di zona-zona tropis yang sangat cocok untuk budidaya kelapa sawit (Meijaard, E., et al, 2018).

Khusus 2017-2020, fokus IUCN Oil Palm Task Force ialah (1) menyediakan kajian dan rekomendasi tata-kelola budi-daya kelapa sawit secara berkelanjutan; (2) menyediakan saran tata-kelola budi-daya kelapa sawit secara berkelanjutan sesuai standar global untuk industri kelapa sawit, jaringan IUCN, dan pemangku kepentingan sektor budi-daya kelapa sawit.

Misalnya, tahun 2018, IUCN Oil Palm Task Force merilis kajian situasi kelapa sawit dan keragaman-hayati (Meijaard, E., Garcia-Ulloa, J., Sheil, D., Wich, S.A., Carlson, K.M., Juffe-Bignoli, D., and Brooks, T.M. (eds.) (2018), “Oil palm and biodiversity. A situation analysis by the IUCN Oil Palm Task Force”, IUCN Oil Palm Task Force Gland, Switzerland: IUCN). Adjunct Professor Erik Meijaard dan Profesor Douglas Sheil terlibat dalam analisa itu.

***

“Those who ask to boycott all palm oil due to its contribution to deforestation should also consider boycotting coffee, chocolate and coconut if they wish to be consistent!” Atau pihak-pihak yang mengkampanyekan boikot semua minyak sawit karena memicu deforestasi mesti konsisten untuk boikot pula kopi, coklat, dan kelapa. Ini hanya cuplikan hasil kajian terbaru dari Adjunct Professor Erik Meijaard dan Profesor Douglas Sheil tentang risiko tata-kelola budi-daya kelapa sawit dan solusinya pada akhir Mei 2019.

Menurut kedua ahli itu, banyak orang menduga bahwa industri kelapa sawit adalah suatu kejahatan (a major evil). Namun, tidak banyak orang tahu bahwa industri ini memberi banyak manfaat bagi banyak orang, jika direncanakan dan dikelola secara berkelanjutan; misalnya peningkatan pendapatan petani, penyediaan lapangan kerja dan investasi jasa-jasa dan infrastruktur (Meijaard, E., et al, 2019).

“Our key message is the following: The effects of oil palm, on the environment and on human society, are case-specific and largely dependent on circumstances. This must be recognised when conducting debate, and making management and consumer decisions,” papar Profesor Douglas Sheil asal Norwegian University of Life Sciences (NMBU, 28/5/2019). Begitu kesimpulan dan pesan utama dari artikel ilmiah kedua ahli itu yang membandingkan produksi dan manfaat budi-daya kelapa sawit dan minyak nabati lainnya serta pengalaman risetnya tentang konservasi hutan tropis selama 50 tahun terakhir.

Adjunct Professor Erik Meijaard dan Profesor Douglas Sheil  (2019) menyebut contoh total luas industri kelapa sawit seluruh dunia tahun 2017 mencapai 18,7 juta ha; jumlah itu menempati urutan ke-4 dari luas tanaman minyak nabati atau masih kalah luas dibanding kedelai, lobak (atau kanola) dan jagung. Di sisi lain, minyak sawit menghasilkan 35% minyak nabati dunia dengan kurang dari 10% total tata-guna lahan pertanian dunia saat ini. Secara global, hanya terjadi 0,5% deforestasi akibat perluasan budi-daya kelapa sawit, kecuali sekitar 50% di zona seperti Borneo-Malaysia.

“Bananas, beef, cane sugar, chocolate, coconuts, coffee, pineapples, soybeans, tea and vanilla, to name a few, are all produced in previously forested tropical areas,” ungkap Profesor Douglas Sheil (NMBU, 28/5/2019). Menurut Profesor Douglas Sheil, secara umum, tata-kelola kelapa wasit secara berkelanjutan dapat menghasilkan profit dan benefit, kecuali risiko pokoknya ialah korupsi dan praktek-praktek manajemen buruk akibat tidak transparan, tidak akuntabel, dan tanpa good-governance (disreputable practices).

Kisah budi-daya kelapa sawit tersebut di atas hanya satu contoh riset, kajian, diskusi, dan debat perihal penerapan prinsip-prinsip bio-ekonomi akhir-akhir ini di seluruh dunia. Bahwa kinerja program ekonomi kini diukur dari risiko dan benefitnya terhadap daya-sangga ekosistem atau lingkungan.

Kelapa sawit dapat menjadi berkat bagi Rakyat, Bangsa dan Negara jika dikelola secara bekelanjutan (sustainable palm oil industry). Antara lain program Pemerintah bidang Biodiesel 20 (B2) berbasis minyak sawit. Misalnya, Senin sore (12/8/2019) di Kantor Presiden (Jakarta), Menko Perekonomian Darmin Nasution merilis laporan bahwa realisasi pelaksanaan mandatori Biodiesel 20 (B20) di Negara RI sejak setahun terakhir mencapai 97,5%; Rata-rata-rata impor solar bulanan tahun 2019 turun 45% dibanding rata-rata impor solar bulanan 2018 karena progran B20 ini (Humas Setkab RI, 12/8/2019).

Maka kini tiba saatnya, Rakyat dan Pemerintah RI merawat dan mengelola kelapa sawit secara berkelanjutan guna meraih cita-cita Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 berdasarkan Pancasila dan UUD 1945; yakni Rakyat adil, damai, dan makmur dan sehat-lestari ekosistem Negara RI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sejak awal abad 21. 

Oleh: Komarudin Watubun