• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Papua : Ilham Peradaban Dunia & “Asia’s Garden of Eden”

Selama ini, Papua adalah ilham peradaban dunia dan ‘Asia’s Garden of Eden’ yang harus mendapat perhatian dari Pemerintah Negara RI; bentuknya antara lain, pengakuan, jaminan, dan perlindungan hak-hak tradisi, hak-hak dasar Rakyat, budaya, kearifan lokal, karya-karya seni, dan local heritage masyarakat Papua dan alamnya. Ini antara lain kekhususan Papua selama ini dan masa datang.

Jumat malam (30/8/2019) di Istana Merdeka (Jakarta), pada Rapat Terbatas Mengenai Penanganan Situasi Terkini, Presiden RI Joko Widodo merilis respons kebijakan Situasi Terkini Papua : “Saya percaya bahwa warga di Papua, warga di Papua adalah warga yang cinta damai, cinta kepada Bangsa dan Negara; Juga tidak ada toleransi kepada perusuh dan pelaku tindakan-tindakan anarkis; Saya sudah mendapatkan laporan tindakan hukum sudah dilakukan, baik proses hukum kepada oknum sipil maupun oknum militer yang melakukan tindakan itu, sudah dikerjakan tanpa kecuali; Semua warga Negara tanpa kecuali, semuanya harus dilindungi dan dijaga harkat dan martabatnya.” (Humas Setkab RI,  30/8/2019).

Papua adalah ilham peradaban dunia dan ‘Asia’s Garden of Eden’ yang harus diakui dan dilindungi oleh Negara. Misalnya, ukiran-ukiran Asmat dari Papua sangat digandrungi oleh kolektor-kolektor seni sejak awal abad 20 hingga awal abad 21. Misalnya, The Met—bangunan utama museum dan galeri seni terbesar dunia Metropolitan Museum of Art—di New York City, Amerika Serikat, memiliki sekitar 11.000 koleksi seni dari seluruh dunia.

Di antara lukisan batu (rock art) asal Aborigin (Australia), yang sudah berusia sekitar 40.000 tahun, pada bagian Rockefeller ujung selatan museum Metropolitan Museum of Art, terdapat pula koleksi seni-budaya berupa ukiran tiang setinggi 4,6 meter asal suku Asmat di Papua. (Kate Ezra, 1992; Metropolitan Museum of Art, Eric Kjellgren, 2007:337).

Apa keunggulan, keunikan, dan rahasia ukiran-ukiran Asmat? Ukiran-ukiran suku Asmat – yang terdiri dari sekitar 12 sub-suku dan berjumlah sekitar 70.000 jiwa di Papua – memiliki dasar-dasar dan lambang keseimbangan kehidupan manusia dan alam. Alur-alur ukiran suku Asmat, seperti posisi duduk, berisi simbol alam. Bahwa secara kejiwaan, suku Asmat memahami tanda alam, rahasia keseimbangan alam, dan lestarinya alam. Maka selama ini dan suatu waktu nanti, manusia di belahan Bumi lainnya mempelajari titik-titik keseimbangan alam—kehidupan manusia, tanah, air, hayat, dan atmosfer—pada lukisan dan ukiran Asmat.

Sejak biolog-geografer Alfred Russel Wallace abad 19 Masehi hingga akhir abad 20, sangat banyak ahli dari seluruh dunia meneliti, mempelajari, dan mengkaji ukiran-ukiran dan karya seni suku Asmat asal Papua. Misalnya, Eyde, David Bruener. (1967). Cultural Correlates of Warfare Among the Asmat of South-West New Guinea, Ph.D. Dissertation, Department of Anthropology, Yale University; Gerbrands, Adrian A. (1967) Wow-Ipits: Eight Asmat woodcarvers of New Guinea. The Hague and Paris: Mouton and Company;

Berikutnya, Knauft, Bruce M. (1993). South Coast New Guinea Cultures: History, Comparison, Dialectic. Cambridge: Cambridge University Press; Konrad, Gunter, Ursula Konrad, and Tobias Schneebaum. (1981). Asmat: Life with the Ancestors. Glashutten, West Germany: Freidhelm Bruckner Publishers; Petocz, Ronald G. (1989). Conservation and Development in Irian Jaya. Leiden: E.J. Brill.

Rockefeller, Michael Clark dan Adrian A. Gerbrands. (1967). The Asmat of New Guinea: The Journal of Michael Clark Rockefeller. New York: Museum of Primitive Art; Saulnier, Tony. (1963). Headhunters of Papua. New York: Crown Publishers; Schneebaum, Tobias. (1985). Asmat Images: From the Collection of the Asmat Museum of Culture and Progress. Agats, Irian Jaya: Asmat Museum of Culture and Progress; Smidt, Dirk A.M., ed. (1993). Asmat Art: Woodcarvings of Southwest New Guinea.

Dengan kontribusi Adrian A. Gerbrands, et al. Singapore: Periplus Editions & the Rijksmuseum voor Volkenkunde, Leiden; Trenkenschuh, Frank A., ed. (1970-1981) Asmat Sketchbook: Volume 1-8 Agats: Asmat Museum of Culture and Progress; Van der Zee, Pauline, (1996) Etsjopok: avenging the ancestors. The Asmat bisj poles and a proposal for a morphological method. Working Papers in Ethnic Art 8 (University of Ghent, Department of Ethnic Art).

Jadi, ahli-ahli dunia dan masyarakat internasional melihat Papua—tradisi, kearifan lokal, karya cipta, seni, budaya, mitologi, dan legenda masyarakat Papua dan alamnya sebagai ilham peradaban dunia. Karena itu, dari hasil ekspedisinya ke wilayah Indonesia Timur selama 8 tahun (1854-1862), Alfred Russel Wallace menulis buku The Malay Archipelago.

Dalam bukunya itu, Alfred Russel Wallace menyebutkan bahwa orang-orang Papua lebih cerdas dari pada orang-orang Melayu lainnya di Nusantara. Antara lain, karena ukiran-ukirannya yang indah dan unik asal suku Asmat di Papua dan hidup orang-orang Papua yang menemukan titik-titik keseimbangan dengan alam. Ukiran-ukiran Asmat dengan beragam motif antara lain patung manusia, panel, perisai perahu, tifa, telur kasuari, tiang, perahu, pohon, binatang, orang berperahu, orang berburu dan lain-lain.

Tahun 1858, Alfred Russel Wallace masuk ke Papua. Selama 4 (empat) bulan, Wallace tinggal di Teluk Dorei (Manokwari) guna meneliti bio-geografi Papua. Tahun 1920, hasil riset Alfred Russel Wallace dirilis di Eropa. Sejak itu, hingga akhir abad 20, terdapat lebih dari 140 ekspedisi ilmiah ahli-ahli Eropa di Papua.

Di awal abad 21, misalnya, antropolog Stuart Kirsch asal Michigan University di Amerika Serikat meneliti tentang pengaruh bird of paradise (burung Cendrawasih) terhadap revolusi fesyen (fashion) di Eropa dan Amerika Utara awal abad 20. Perempuan-perempuan Eropa memakai bulu-bulu burung Cendrawasih pada topi-topi fesyennya. Akibatnya, berton-ton bulu burung Cendrawasih diekspor ke Eropa dan Amerika Utara awal abad 20.

“How might the characteristic of natural species like the greater bird of paradise influence human history?” Begitu Stuart Kirsch ‘menyimpulkan’ hasil risetnya  tentang kehidupan masyarakat Yonggom di hutan hujan selatan New Guinea. (Stuart Kirsch, 2008). Ini hanya satu contoh bahwa Papua selama ratusan tahun adalah ilham peradaban dunia. Ahli-ahli asal Eropa dan kolektor-kolektor seni asal Eropa mengakui tingginya peradaban suku-suku di Papua selama ini—hal yang belum banyak disumbangkan oleh masyarakat lain asal Nusantara.

Misalnya, awal abad 20, banyak karya seni khususnya ukiran suku Asmat, artifak, dan spesimen zoologi dikumpulkan oleh kolonialis Belanda dan dibawa ke Eropa. Sejak itu, artifak karya suku Asmat sangat mungkin melahirkan ilham bagi seniman modernis dan surealis Eropa seperti Henri Matisse, Marc Chagall, dan Pablo Picasso. Ketiganya mengakui adanya pengaruh karya seni Asmat terhadap karya seninya. (Deseret News, 18/4/1999; Konrad, Gunter, et al, 1996; Tobias Schneebaum, 1988).

Contoh lain ialah Michael C. Rockefeller Wing pada The Met di New York City, Amerika Serikat. Koleksi The Met ini berasal dari sumbangan keluarga Rockefeller tahun 1973. Koleksi ini dilabel ‘Michael C. Rockefeller Wing’, putra Gubernur dan Wakil Presiden Nelson Rockefeller, yang hilang di Papua tahun 1961, ketika Michael Rockefeller sedang mengoleksi karya-karya seni di Papua. (Danielle Oteri, 2019).

Michael Rockefeller meninggalkan jurusan ekonomi di Harvard University dan pindah ke jurusan Arkeologi dan Etnologi, hanya untuk mempelajari seni-seni dan ukiran-ukiran Asmat asal Papua selama 3 pekan pada 13 desa. Saat itu, usianya 23 tahun! Michael Rockefeller mengumpulkan ratusan barang arkeologi seperti mangkuk, prisai, 4 tiang Bis, dan tombak asal Asmat (Papua). Michael Rockefeller akhirnya hilang di Papua tahun 1961. Tahun 2014, dalam Harvaest Savage, Carl Hoffman khusus menulis petualangan dan misteri hilangnya Michael Rockefeller di Papua.

***

Awal abad 21, masyarakat dunia dan para ahli menyebut Papua : “Asia’s Garden of Eden”. Tentu saja gelar dan label ini sangat beralasan dan bukan gelar untuk zona lain Negara RI. Misalnya, Institut de recherche pout le developpement (IRD) tahun 2013, mengakui keragaman-hayati sangat kaya di Papua.

Akhir abad 20, hasil survei Conservation International (1999) menemukan 164 mamalia, 330 reptil dan ampibi, 650 burung, dan sekitar 250 spesies air tawar dan 1200 spesies air laut serta sekitar 150 ribu spesies insekta di Papua. Jumlah ini lebih besar dari laporan Biodiversity Action Plan for Indonesia (1993).

Sekitar 164 spesies hewan mamalia Papua belum banyak diriset dan dikenal. Karena itu, banyak upaya banyak ahli untuk menyingkap misteri keajaiban Papua. Misalnya, upaya survei Kitchener et al. (1997) dan Kitchener et al (1998) di kawasan kontrak P.T. Freeport Contract of Work, survei Singadan dan Patiselanno (2002) di Sungai Mamberamo. Begitu pula upaya peneliti Boeadi dan Widodo (2000) menyingkap keragaman-hayati dalam rangka pelestarian keragaman hayati Papua.

Keragaman spesies mamalia sangat kaya yang harus dilestarikan di zona Freeport Contract of Work. Ini hasil riset dan kajian Kitchener dan Yani (1997) dan Kitchener et al (2000). Fauna hutan Papua sejauh ini didominasi oleh spesies burung hutan.  (Beehler et al. 1986).

Wilayah Papua memiliki posisi yang penting dan menentukan dalam upaya mengurangi dan memitigasi perubahan iklim. Karena kapasitas hutan Papua yang luasnya 42 juta hektare dapat memproses karbon dioksida kurang lebih sama dengan kemampuan untuk memproses jejak karbon yang dihasilkan oleh seluruh penduduk benua Eropa. Sekitar 75% zona Papua ditumbuhi hutan dan memiliki kekayaan keragaman-hayati.

Di tanah Papua tumbuh sekurang-kurangnya 16 ribu spesies tumbuhan. Zona aliran air, sungai, dan lahan basah di Papua juga merupakan sumber garam dan zona hunian buaya air tawar, monitor pohon, rubah terbang, osprey atau ikan elang (Pandion haliaetus), kelelawar dan binatang lain.

Sebagian besar zona gletser Khatulistiwa di Puncak Jaya yang juga masih belum banyak diriset. Terry Kirby (2006) melaporkan satu tim ilmuwan mengeksplorasi pegunungan Foja, Sarmi, menemukan banyak spesies baru burung, kupu-kupu, amfibi dan tanaman, dan spesies bunga rhododendron terbesar.

Panjang pegunungan sisi barat Papua mencapai 600 km atau sekitar 373 mil.  Papua memiliki pegunungan paling tinggi antara Himalaya dan Andes, yang mencapai sekitar 4.884 m dan memasok air hujan untuk atmosfer tropis di Papua dan sekitarnya. Puncak tertingginya diselimuti glasier ekuator—garis Khatulistiwa, yang terus mencair sejak akhir tahun 1970-an akibat perubahan iklim yang ekstrim planet bumi.

Maka kini, tiba saatnya Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Papua dan Papua Barat mengakui, menjamin, dan melindungi kekhususan Papua selama ini—yang sudah juga diakui oleh para ahli dunia dan masyarakat internasional, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 

Oleh: Komarudin Watubun