• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Hasil Riset ‘Baju Zirah’ & Darah Naga Komodo

Sejak akhir abad 20, ahli-ahli asal Amerika Serikat dan Australia, gigih melakukan riset-riset ilmiah tentang Varanus Komodoensis. Misalnya, sekitar tahun 1998-1999, badan khusus Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pentagon (Department of Defense/ DoD), Defense Threat Reduction Agency (DTRA), mendanai riset darah Varanus Komodoensis (Komodo Dragon / Naga Komodo), reptil ‘raksasa’ dari era jutaan tahun yang masih hidup di Pulau Komodo, Rinca, dan Padar di Kabupaten Manggarai Barat, barat Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hasilnya, ahli-ahli asal AS itu menemukan zat-zat anti-biotik pada darah Varanus Komodoensis (Komodo Dragon). ( American Chemical Society, 2017; Donald G. McNeil Jr./ The New York Times, 17/4/2017). 

Jessica A. Maisano, ilmuwan anatomi asal Jackson School of Geosciences, The University of Texas di Austin, Texas, AS, dkk merilis risetnya tentang organ-organ pertahanan diri Varanus Komodoensis.  Hasilnya, di bawah sisiknya, Varanus Komodo memiliki ‘baju-zirah’ (suit of armor) yang terbuat tulang-tulang kecil. Baju zirah berantai ini melindungi Naga Komodo dari kepala hingga ekor. Baju zirah itu melindungi Naga Komodo dari serangan pemangsa atau Naga Komodo lainnya.

Hasil riset Maisano dkk itu dirilis oleh jurnal The Anatomical Record edisi 8 Juni 2019 / 10 September 2019 (Jessica A. Maisano, Travis J. Laduc, Christopher J. Bell, Diane Barber, “The Cephalic Osteoderms of Varanus komodoensis as Revealed by High-Resolution X-Ray Computed Tomography”, The Anatomical Record, 2019). Selain Jessica A. Maisano, riset itu melibatkan pula co-authors : (1) Asisten Profesor Travis J. LaDuc asal Biodiversity Collections, Department of Integrative Biology, The University of Texas di Austin, Texas (AS); (2) Profesor Christopher J. Bell asal Jackson School of Geosciences, The University of Texas di Austin, Texas (AS); dan kurator hewan berdarah-dingin, Diane Barber asal Fort Worth Zoo, Forth Worth di Texas, AS.

Riset Maisano dkk didanai oleh National Science Foundation di AS. Tim ahli itu menggunakan teknologi CT scan – pemindaian dengan compoted-tomography (X-ray) solusi tinggi (HRXCT) – untuk memvisualkan esteodermata dan tulang tengkorak Varanus Komodo (Naga Komodo / Comodo Dragon) usia 19 tahun asal Pulau Komodo, Rinca, Kabupaten Manggarai Barat. Hasil pemindaian itu antara lain terlihat jaringan osteodermik sefat sangat banyak dan beragam secara morfologis yang berbeda dengan jaringan organ pada reptil-reptil atau lizard-lizard lainnya. (American Association for Anatomy, 2019).

Secara digital, tim ilmuwan itu merekonstruksi kerangka dua spesimen Naga Komodo yang telah mati—Naga Komodo dewasa dan Naga Komodo balita. Naga Komodo dewasa memiliki ‘baju-zirah’ yang sangat beragam dan berbeda dari reptil-reptil lainnya; sedangkan balita Naga Komodo tidak memiliki ‘baju-zirah’ dari tengkorak hingga ekornya. Spesimen Naga Komodo dewasa usia 19,5 tahun dan ukuran sekitaar 9 kaki berasal dari Fort Worth Zoo di Amerika Serikat; sedangkan Naga Komodo balita usia 2 tahun berasal dari hibah San Antonio Zoo di Amerika Serikat. (Science Daily, 12/9/2019).

“We were really blown away when we saw it. Most monitor lizards just have these vermiform (worm-shaped) osteoderms, but this guy has four very distinct morphologies, which is very unusual across lizards,” papar Maisano (University of Texas at Austin, 12/9/2019).

Selama ini, Naga Komodo balita selalu berupaya naik ke pohon guna menghindari risiko dimangsa oleh Naga Komodo dewasa. Ketika Naga Komodo menjadi dewasa, tubuhnya memiliki baju zirah yang melindunginya dari ancaman Naga Komodo lainnya.

Jejak sejarah riset ilmiah Naga Komodo sudah lebih dari 100 tahun. Mula-mula tahun 1910, pemerintah kolonial Belanda menempatkan Letnan Jacques Karel Henri van Steyn van Hensbroek di Pulau Flores. Van Hensbroek yang mendapat laporan masyarakat tentang Varanus komodoensis, berangkat ke Komodo dan menyeledikinya. Van Hensbroek kembali dari Komodo membawa foto dan kulit binatang Varanus komodoensis, yang dia kirim ke Pieter Ouwens, Direktur Museum Zoologi di Jawa dan Kebun Raya di Buitenzorg (sekarang Bogor), Jawa Barat di Negara RI.

Dari foto dan spesimen kulit Varanus komodoensis itu, Pieter Ouwens membuat kesimpulan sementara yakni (1) Varanus komodoensis itu bukan seperti buaya umumnya; (2) jenis buaya itu termasuk biawak sangat besar (a large monitor lizard); (3) hewan itu termasuk jenis baru di bidang sains (Eropa). (Ouwens, Pieter, 1912:1-3)   Pieter Ouwens merilis uraian ilmiah dan penamaan pertama kali tentang “Komodo Dragon” yang dikenal di seluruh dunia hingga awal abad 21 sebagai Varanus komodoensis. 

 

 

 

Oleh: Servas Pandur