• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Jejak 35 Tahun Kebakaran Hutan & Lahan di Negara RI

“Hot and dry. These are the watchwords for large fires!” Atau panas dan kering adalah kata kunci kebakaran skala besar di planet Bumi akhir-akhir ini. Begitu tulis Ellen Gray dari tim laporan Earth Science pada National Aeronautics and Space Administration (NASA), badan penerbangan dan antariksa di Amerika Serikat, khusus edisi Rabu 11 September 2019.

Risiko lonjakan panas dan kering planet Bumi kini sangat terasa di zona tropis Negara RI.  Harian The New York Times (2018) merilis laporan tentang kajian NASA perihal kebakaran hutan dan lahan di Negara RI awal abad 21 : “NASA researchers say the accelerated destruction of Borneo’s forests contributed to the largest single-year global increase in carbon emissions in two millenniums, an explosion that transformed Indonesia into the world’s fourth-largest source of such emissions.”

Di sisi lain, Ruby Mellen, asisten riset pada harian The Washington Post di Washington D.C. (Amerika Serikat), merilis laporan kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera sejak Agustus-September 2019. Mellen pernah bekerja di jaringan media Cable News Network (CNN) di Amerika Serikat dan jurnal Foreign Policy yang didirikkan oleh Samuel P. Huntington dan Warren Demian Manshel di Amerika Serikat.

“The disasters in Indonesia are only the latest in a year of ruinous forest fires around the world.” Tulis Mellen pada The Washington Post (18/9/2019). Bencana kebakaran hutan dan lahan di Negara RI sejak awal September 2019 hanya satu dari bencana kebakaran hutan-lahan di sejumlah zona planet Bumi. Mellen menulis respons Pemerintah RI memadamkan api; Presiden RI Joko Widodo melibatkan lebih 5.600 personil TNI dan 9.000 pemadam kebakaran yang didukung oleh sekitar 52 pesawat pemadam kebakaran. (AP, 17/8/2019).

Temperatur kian panas dan kering planet Bumi juga berdampak terhadap zona lahan dan hutan di Brazil. Herton Escobar (2019) menulis laporan kebakaran di hutan Amazon (Brazil) edisi Science akhir Agustus 2019. "A little bit of everything is burning.': A NASA scientist dissects Amazon fires!” Apa saja bisa terbakar di saat panas ekstrim dan kering akhir-akhir ini. Kebakaran hutan Amazon Brazil memicu ketegangan diplomatik antara Brazil vs negara-negara Eropa dan aktivis lingkungan awal abad 21.

Sejak 1880, panas planet Bumi naik kira-kira 1,9 derajat Farenheit. Data satelit NASA merekam bahwa panas sangat esktrim terjadi selama 5 (lima) tahun belakangan ini. Akibatnya, sangat serius terhadap kehidupan di planet Bumi. Tiap api membutuhkan percikan api dan bahan (mudah) terbakar; namun, kondisi panas dan kering atmosfer menentukan kemungkinan awal kebakaran, intensitas, dan kecepatan penyebarannya. (Ellen Gray, 2019).

Faktor alam panas dan kering itu menjelaskan musim kebakaran hutan (wildfire season) sangat lama dan area luas sepanjang hampir ¼ permukaan vegetasi planet Bumi sejak tahun 1980-an. Bahkan kini, beberapa zona di negara bagian California, Amerika Serikat (AS), kebakaran hampir menjadi risiko tahunan.

California mencatat kebakaran hutan sangat parah tahun 2018. Tahun 2017, California juga dilanda oleh kebakaran sangat parah. Tahun 2019, kebakaran hutan menghanguskan 2,5 juta ha hutan di Alaska, akibat kebakaran ekstrim saat suhu sangat tinggi; kebakaran hebat juga melanda Siberia tahun 2019, akibat suhu sangat tinggi.

Di Negara RI, menurut data Global Fire Emissions Database (GFED, 2016) bahwa saat gelombang El Nino tahun 1997, kebakaran hutan dan lahan di Negara RI, melepas kira-kira 4,3 miliar ton karbon dioksida. Total emisi CO2 akibat kebakaran hutan dan lahan di Negara RI tahun 1997 itu, kira-kira setara dengan 13% - 40% rata-rata emisi bahan bakar fosil global tahunan saat itu. (Robert D. Field, et al., 2016:1; Page SE, et al., 2002: 61-65).

Jadi, hasil pantauan satelit NASA memperlihatkan bahwa akhir-akhir ini, planet Bumi memang semakin panas; begitu pula potensi kebakaran hutan dan lahan. NASA (2019) juga memiliki rekaman pantauan satelit emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan sejak 1 Januari 2003 – 31 Desember 2018. Hasilnya, zona-zona titik api lazimnya sedang mengalami suhu panas naik atau ekstrim. Perubahan iklim dan pemanasan global akhir-akhir ini berdampak sangat hebat terhadap kebakaran hutan dan lahan di sejumlah zona vegetasi planet Bumi.

Testimoni Doug Morton (2019), ahli penginderaan jarak jauh NASA di AS, sangat penting. Morton melihat dan mengkaji pantauan satelit selama 20 tahun terakhir terhadap area kebakaran hutan-lahan, emisi asap, dan perubahan iklim di berbagai zona planet Bumi.

“Our ability to track fires in a concerted way over the last 20 years with satellite data has captured large-scale trends, such as increased fire activity, consistent with a warming climate in places like the western U.S., Canada and other parts of Northern Hemisphere forests where fuels are abundant. Where warming and drying climate has increased the risk of fires, we’ve seen an increase in burning,” papar Doug Morton, kepala Biospheric Sciences Laboratory pada Goddard Space Flight Center (NASA) di Greenbelt, Maryland, Amerika Serikat. (Ellen Gray, 2019).

Hasil analisis terhadap data satelit NASA dan data lapangan di berbagai zona kebakaran hutan di AS menunjukkan bahwa suhu panas dan rendahnya kelembaban adalah dua faktor pokok pemicu lonjakan risiko kebakaran—‘fire behavior’ atau perilaku api hingga penyebarannya. Begitu kesimpulan Jim Randerson (2019), ahli sistem planet Bumi pada University of California, AS, yang mempelajari khusus api (kebakaran) di lapangan dan data satelit.

Jim Anderson dan koleganya (2019) mempelajari kebakaran hebat melanda Alaska tahun 2015 yang menghanguskan sekitar 5,1 juta are lahan. Hasilnya, ‘lightning strikes’ adalah pemicu utama kebakaran secara alamiah. Tim ahli itu menemukan ‘lightning strikes’ yang tidak lazim, terjadi akibat suhu kian panas yang berdampak terhadap kondisi atmosfer; kondisi kian panas dan kering kadang-kadang memicu kebakaran hebat akibat ‘accidental fire’ misalnya kegiatan luar ruang manusia yang tidak terkontrol atau bahkan tanpa sengaja. Ini antara lain terjadi awal pada kebakaran yang menghanguskan Ranch and Carr Fires di California, AS, tahun 2018.  (Ellen Gray, 2019).

***

Di sisi lain, berbagai riset ilmiah akhir-akhir ini juga menemukan bahwa kebakaran lahan dan hutan jangka panjang dan skala luas, sangat berkaitan dengan tata-kelola lahan (human land management). Faktor ini yang perlu mendapat perhatian dari Rakyat dan Pemerintah di berbagai Negara, termasuk Negara RI, dalam rangka mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Rilis data dari World Resources Institute (2016) misalnya menyebutkan bahwa risiko kebakaran hutan dan lahan di Negara RI lazimnya terjadi pada kisaran bulan Juli-Oktober ketika musim kering dan panas sangat menyengat. Hingga kebakaran hutan dan lahan dapat melepas 1,6 miliar ton gas rumah-kaca ke atmosfer tahun 2015 dari Negara RI. Faktor risikonya terutama berasal dari faktor manusia dalam tata-kelola lahan.

Begitu pula bencana kebakaran hutan di Amazon Brazil. Herton Escobar (2019) dalam edisi Science 30 Agustus 2019 menulis bahwa Januari-akhir Agustus 2019, satelit Terra dan Aqua NASA mendeteksi sekitar 100.000 ‘titik api’ (fire spots) di Amazon Brazil. Jumlah titik api ini tertinggi sejak 2010 di Amazon Brazil. Faktor utamanya ialah manusia dalam tata-kelola lahan.

Herton Escobar (2019) misalnya mengutip ahli indera jarak jauh pada NASA, Douglas Morton, di Greenbelt, Maryland (AS) : “There is some information we can take directly from the satellite measurements. We know the location and duration of the fires, and the amount of energy they produce gives us an indication of what is burning. We can see smoke plumes from intense fires rising higher into the atmosphere and spreading further downwind; and we see fires that are burning in the same location for multiple days, which is only possible if they are burning wood.”

Douglas Morton (2019) menambahkan : “Fires that are burning through grasses or agricultural fields will pass quickly and do not produce as much energy. So, we can look at all these characteristics together to identify burning that’s more consistent with deforestation than with other fire types.” Jadi, tata-kelola lahan atau faktor manusia sering merupakan pemicu risiko kebakaran hutan skala luas dan jangka panjang di Amazon Brazil.

Selama ini, bersama mitranya di University of California (AS), Vrije University di Amsterdam (Belanda) dan University of Maryland di College Park (AS), Douglas Morton mengisi laporan Global Fire Emissions Database (GFED). GFED merilis emisi karbon dan zona-zona kebakaran di seluruh dunia. Sejak 2001, Douglas Morton dan koleganya di Brazil, mempelajari risiko kebakaran hutan, kekeringan, dan logging (penebangan hutan) di Brazil.

Di Negara RI, sejak 1998, kebakaran hutan dan lahan diriset dan dikaji oleh banyak ahli dari berbagai Negara. Bencana kebakaran hutan dan lahan tahun 2015, misalnya, merupakan kebakaran paling parah menurut data satelit Earth Observing pada NASA sejak awal 2000-an. Begitu hasil kajian Robert D. Field et al (2016) yang dirilis oleh jurnal PNAS edisi 21 Juni 2016. Perkiraan tim ahli itu menyebutkan bahwa pelepasan emisi pembakaran biomassa setara CO2 tahun 2015 Negara RI setara dengan emisi CO2 bahan bakar fosil tahun 2013 asal Jepang dan India; lingkungan kebakaran di Negara RI, khususnya Kalimantan, semakin memiliki kepekaan nonlinier terhadap kondisi-kondisi kering.

Kebakaran dan kabut asap tahun 2015 di Negara RI hanya merupakan peristiwa berulang dan periodik sejak 1980-an di Kalimantan (Malingreau JP, et al., 1985; Fishman J, et al., 1990; Kita K, et al., 2000; Thompson AM, et al., 2001; Wooster MJ) dan Sumatera sejak 1960-an (Field RD, et al., 2009). Riset-riset dan kajian ini terutama fokus pada kebakaran skala besar atau sedang yang terjadi tahun 1982/1983, 1987, 1991. 1994, dan 2006 di Negara RI. Kebakaran “diatur” untuk membersihkan sisa penebangan hutan (logging waste), sisa-sisa agrikultur, atau menjaga penguasaan lahan dan pertumbuhan lagi keragaman-hayati baru (Herawati H, et al., 2011; Medrilzam M, et al., 2014).

 

Selama 1980-an hingga 2008, kebakaran hutan dan lahan di wilayah-wilayah Negara RI dan wilayah lain di Asia Tenggara, lazimnya terjadi pada lahan gambut kering atau terdegradasi (Gaveau DLA, et al., 2014). Kondisi tidak normal sepert musim kemarau berkepanjangan, biasanya dipengaruhi oleh El Nino; sehingga lahan gambut menjadi sangat kering dan mudah terbakar (Page SE, et al., 2002: 61-65); sering api dari permukaan tanah masuk hingga bawah permukaan tanah; akibatnya, sumber api bertahan lama dan terus terbakar hingga tiba musim hujan (Field RD, et al., 2008:17).

Kebakaran hutan dan lahan tahun 2006 di Negara RI, terjadi pada saat bersamaan denganEl Niño dan kondisi Indian Ocean Dipole. (Field RD, et al., 2008:17). Kebakaran itu terekam oleh satelit NASA di AS, khususnya pengukuran polusi di mid-troposfer. (Logan JA, et al., 2008:5; Yurganov L, et al., 2010: 3479–3494; Worden J, et al., 2013: 4938–4943). Hasilnya, CO dari troposfer atas pada kebakaran hutan dan lahan tahun 2006 di Negara RI, merupakan tertinggi (luas dan lamanya) selama tahun 2004-2011 di seluruh zona tropis planet Bumi (Livesey NJ, et al., 2013: 579-598).

Khusus data bencana kebakaran hutan dan lahan September 2019, dari Jakarta, selasa (18/9/2019), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis laporan bahwa hingga pagi pukul 09.00 wib, total luas wilayah dilanda bencana kebakaran hutan dan lahan mencapai 328.724 ha selama Januari-Agustus 2019; terdapat 2.719 titik panas; respons dari BNPB yakni melibatkan sebanyak 44 heli (34 WB dan 10 patroli), 270.284.874 liter (WB), 163.216 kg garam (TMC) dan 9.072 personil pemadam kebakaran; wilayah terkenda bencana kebakaran hutan dan lahan yakni Provinsi Riau, Provinsi Jambi, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Kalimantan Barat, provinsi Kalimantan Tengah, dan Provinsi kalimantan Selatan.  (Humas Setkab RI, 18/9/2019).

Ruby Mellen (18/9/2019) menulis di The Washington Post bahwa nyala api atau kebakaran selalu memicu risiko di musim panas yang sebagian besar dipicu oleh petani yang membakar lahan untuk membuka ruang bagi tanaman baru. Namun, pola pembukaan lahan semacam ini sangat berisiko di masa-masa planet Bumi kian panas dan kering akhir-akhir ini.

Di Brazil, misalnya, cara pembukaan lahan serupa, juga memicu kebakaran hutan Amazon dan menghanguskan keragaman-hayati hutan hujan Amazon. Begitu pula di Australia, kebakaran melanda Quensland dan New South Wales; api melahap dan membesar melalui ‘dry brush’—semak-semak kering.

Selasa siang (6/8/2019) pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2019 di Istana Negara (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo merilis arahan kebijakan tentang perubahan pola pertanian Rakyat; sehingga petani tidak lagi membakar lahan dan hutan untuk membuka lahan baru; kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 mencapai Rp 221 triliun pada wilayah seluas 2,6 juta ha. Rakornas itu antara lain dihadiri oleh Menko Polhukam Wiranto, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. (Humas Setkab RI, 6/8/2019).

“Memang kita harus berani mengalihkan pola pola pertanian tradisional menuju ke pola pola pertanian yang modern memakai teknologi. Ini tugas Bupati, tugas Wali Kota, tugas Gubernur, tugas Menteri-Menteri dan tugas kita semuanya,” papar Presiden RI Joko Widodo (Humas Setkab RI, 6/8/2019).

Presiden RI Joko Widodo juga merilis prioritas respons terhadap risiko bencana kebakaran hutan dan lahan di Negara RI. Yakni (1) pencegahan melalui deteksi dini, pantauan lapangan, dan patroli terpadu; (2) penataan ekosistem gambut kawasan hidrologi gambut; musim panas dicek rutin dan konsisten; tinggi permukaan air tanah gambut tetap basah terutama di musim kering; dan (3) pemadaman api sejak dini. (Humas Setkab RI, 6/8/2019).

Kini tiba saatnya, Rakyat dan Pemerintah RI melibatkan tata-kelola tiga unsur alam sekaligus guna mencegah risiko-risiko kebakaran hutan dan lahan masa datang di Negara RI; yakni tata-kelola lahan secara berkelanjutan (sustainable land management), tata-kelola air secara berkelanjutan (sustainable water management); dan tata-kelola hutan secara berkelanjutan (sustainable forest management).

Ketiga komponen program dan kebijakan tersebut di atas bermanfaat untuk mencegah risiko kebakaran lahan dan hutan akibat faktor alam. Program dan kebijakan simultan dan berkelanjutan  (sustainable-decision making) ini harus juga merawat kearifan lokal Rakyat per daerah serta melibatkan masyarakat, Pemerintah, pelaku usaha, media (pers), dan perguruan tinggi (Pentahelix).

Jadi, penerapan unsur SDM (pentahelix) saja tidak memadai; unsur alam atau faktor nilai alam harus dilibatkan dalam rangka respons dan pencegahan risiko kebakaran hutan dan lahan di masa-masa datang sehingga tercapai cita-cita Rakyat adil, bersatu, makmur, dan sehat-lestari lingkungannya. Pesan sangat jelas dari Prof. Soepomo, ketua tim kecil di bawah Ir. Soekarno, perancang draft UUD Indonesia merdeka pada BPUPKI tahun 1945 di Jakarta : “Negara adalah sesuatu hal yang bernyawa!” 

Oleh: Komarudin Watubun