• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Kekayaan & Keragaman Hayati Bumi Lahir Dari Iklim Pegunungan (Tropis)

Selama ini, gunung dan pegunungan menjadi ‘rumah bersama’ sekitar 85% keragaman-hayati yang hidup di daratan sekitar 25% planet Bumi. Misalnya, sebagian besar spesies amfibi, burung, dan mamalia hidup di gunung-gunung planet Bumi. Khususnya gunung dan pegunungan di zona-zona tropis, seperti zona Negara RI, selama ribuan tahun menjadi ‘rumah-bersama’ keragaman-hayati paling kaya dan sangat beragam di planet Bumi. Begitu hasil riset dan kajian Carsten Rahbek et al (2019) yang dirilis oleh jurnal Science edisi 2019.

Hasil riset dan kajian Carsten Rahbek et al (2019) menemukan bahwa sifat iklim gunung dan pegunungan yang sangat berbeda dari iklim dataran rendah adalah faktor kunci dan pemicu lahirnya dan lestarinya keragaman-hayati selama ini di gunung-gunung dan pegunungan zona-zona tropis planet Bumi. Karena itu, saat perubahan-perubahan iklim dan tata-guna lahan akhir-akhir ini, peran dan fungsi gunung sebagai ‘refugia’ tempat perlindungan keragaman-hayati kian penting, bernilai, dan menentukan keberlanjutan keragaman-hayati di planet Bumi. 

Kolaborasi riset dan studi ilmiah itu melibatkan banyak ahli yang dirilis oleh dua edisi Science. Yakni Carsten Rahbek, Michael K. Borregaard, Robert K. Colwell, Bo Dalsgaard, Ben G. Holt, Naia Morueta-Holme, David Nogues-Bravo, Robert J. Whittaker, (Carsten Rahbek  et al., “ Humboldt’s enigma: What causes global patterns of mountain biodiversity?”, Science, 2019.) Edisi Science lainnya melibatkan Carsten Rahbek, Michael K. Borregaard, Alexandre Antonelli, Robert K. Colwell, Ben G. Holt, David Nogues-Bravo, Christian M. Ø. Rasmussen, Katherine Richardson, Minik T. Rosing, Robert J. Whittaker, Jon Fjeldså. (Carsten Rahbek, et al., “Building mountain biodiversity: Geological and evolutionary processes”, Science, 2019.)

“The challenge is that, although it is evident that much of the global variation in biodiversity is so clearly driven by the extraordinary richness of tropical mountain regions, it is this very richness that current biodiversity models, based on contemporary climate, cannot explain: mountains are simply too rich in species, and we are falling short of explaining global hotspots of biodiversity,” papar Profesor Carsten Rahbek, ahli makroekologi dan lead author kajian ilmiah dua edisi Science itu (University of Copenhagen, 12/9/2019).

Tim ahli kolaborasi riset dan kajian ilmiah itu berasal dari ilmuwan Center for Macroecology, Evolution and Climate (CMEC) pada GLOBE Institute of the University of Copenhagen di Denmark; Oxford University di Inggris, Kew Gardens, dan University of Connecticut di Amerika Serikat. Para ahli itu mensintesa pemahaman dan data dari disiplin makroekologi, biologi evolusi, ilmu bumi, dan geologi. Hasilnya, antara lain, tim ahli menemukan bahwa sifat iklim wilayah-wilayah pegunungan tropis sangat berbeda, jika dibandingkan dengan iklim daerah dataran rendah di dekatnya; iklim gunung atau pegunungan selalu heterogen yang berperan kunci menghasilkan dan merawat keragaman-hayati di planet Bumi. (Science Daily, 12/9/2019).

“Tropical mountains, based in fertile and wet equatorial lowlands and extending into climatic conditions superficially similar to those found in the Arctic, span a gradient of annual mean temperatures over just a few km as large as that found over 10,000 km from the tropical lowlands at Equator to the arctic regions at the poles. It's pretty amazing if you think about it. People often think of mountain climates as bleak and hars. But the most species-rich mountain region in the world, the Northern Andes, captures, for example, roughly half of the world's climate types in a relatively small region--much more than is captured in nearby Amazon, a region that is more than 12 times larger”, ungkap Michael K. Borregaard, co-leader studi ilmiah itu. (University of Copenhagen, 12/9/2019).

 

Oleh: Servas Pandur