• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Pilihan Investasi Bidang Kendali Perubahan Iklim Lebih Murah

Kini dan ke depan, setiap program kerja, kebijakan, dan investasi mengurangi risiko perubahan iklim bakal lebih murah jika dibandingkan dengan kerusakan, kehancuran, dan kerugian akibat perubahan iklim terhadap manusia, keragaman hayati, infrastruktur, dan ekosistem. Begitu hasil riset dan kajian dari O. Hoegh-Guldberg et al (2019) yang dirilis oleh jurnal Science edisi September 2019.

“Acting on climate change has a good return on investment when one considers the damages avoided by acting. We have underestimated the sensitivity of natural and human systems to climate change, and the speed at which these changes are happening.  We have underappreciated the synergistic nature of climate threats - with the outcomes tending to be worse than the sum of the parts. This is resulting in rapid and comprehensive climate impacts, with growing damage to people, ecosystems, and livelihoods,” papar Professor Ove Hoegh-Guldberg, lead author studi ilmiah ini, dari ARC Centre for Excellence in Coral Reef Studies, University of Queensland di Australia. (University of the Witwatersrand).

Riset kolaborasi itu melibatkan banyak ahli terkemuka dari berbagai negara, misalnya Profesor Francois Engelbrecht dari University of the Witwatersrand, Johannesburg di Afrika Selatan. (Hoegh-Guldberg, D. Jacob, M. Taylor, T. Guillén Bolaños, M. Bindi, S. Brown, I. A. Camilloni, A. Diedhiou, R. Djalante, K. Ebi, F. Engelbrecht, J. Guiot, Y. Hijioka, S. Mehrotra, C. W. Hope, A. J. Payne, H.-O. Pörtner, S. I. Seneviratne, A. Thomas, R. Warren, G. Zhou, “The human imperative of stabilizing global climate change at 1.5°C”,  Science, 2019).

 “The developing African countries are amongst those to be affected most in terms of impacts on economic growth in the absence of strong climate change mitigation. The region has been warming drastically over the last five decades, at about twice the global rate of warming. Southern Africa is likely to become generally drier under low mitigation climate change futures,” ungkap ahli klimatologi Profesor Francois Engelbrecht, co-author studi ilmiah ini, asal Global Change Institute of the University of the Witwatersrand di Afrika Selatan. (University of the Witwatersrand, 19/9/2019).

Profesor Daniela Jacob, co-author studi ilmiah ini dan Director of Climate Services Centre (GERICS) di Jerman, menyoroti perubahan-perubahan dan risiko-risiko khususnya akibat cuaca-cuaca ekstrim akhir-akhir ini di berbagai negara. “We are already in new territory. The 'novelty' of the weather is making our ability to forecast and respond to weather-related phenomena very difficult,” papar Profesor Daniela Jacob. (University of the Witwatersrand, 19/9/2019).

Sedangkan Profesor Rachel Warren dari Tyndall Centre, University of East Anglia di Inggris, membuat proyeksi risiko-risiko terhadap hutan, keragaman hayati, makanan, tanaman pertanian, dan lain-lain di planet Bumi dan menemukan benefit-benefit dari pembatasan pemanasan global ke level 1,5 derajat Celsius daripada 2 derajat Celsius.

"The scientific community has quantified these risks in order to inform policy makers about the benefits of avoiding them. If such policy is not implemented, we will continue on the current upward trajectory of burning fossil fuels and continuing deforestation, which will expand the already large-scale degradation of ecosystems. To be honest, the overall picture is very grim unless we act," ungkap Professor Rachel Warren dari Tyndall Centre, University of East Anglia di Inggris. (University of the Witwatersrand, 19/9/2019).

Akhir-akhir ini, perubahan iklim dan risiko-risikonya terjadi lebih cepat dari perkiraan para ahli. Laporan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) tahun 2018 (IPCC / Intergovernmental Panel on Climate Change) menyebutkan jutaan spesies terancam kini dan masa-masa datang akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

Pilihannya kini ialah kebijakan, program kerja, investasi pengurangan emisi karbondioksida (CO2) sesuai dengan Kesepakatan Paris (Paris Agreement) tahun 2015—yang sudah disetujui atau diratifikasi oleh 185 negara. Ini harus menjadi prioritas dan urgensi dari setiap Negara dan Pemerintah. Misalnya, Profesor Engelbrecht menekankan pembatasan pemanasan global hingga risiko 1,5 derajat Celsius masa datang sehingga kekeringan dan gelombang panas. Jika gagal, maka risikonya ialah pasokan air, agrikultur, produksi pangan, dan kesehatan manusia. (Science Daily, 19/9/2019).

Profesor Engelbrecht adalah lead-author IPCC Special Report on Global Warming tentang 1,5 derajat Celsius tahun 2018. Sedangkan karya ilmiah edisi Science 2019 ini merilis laporan, kajian, dan penilaian terhadap penemuan-penemuan ilmiah tentang dampak perubahan iklim di planet Bumi yang kian panas akhir-akhir ini serta pilihan kebijakan dan investasi guna merekam, mencegah, menghindari, dan mengurangi perubahan iklim. Misalnya, Profesor Engelbrecht mengkaji proyeksi perubahan-perubahan cuaca ekstrim dan ‘hot spots’—titik panasnya di berbagai zona dunia dan kekeringan di Afrika bagian selatan. (Science Daily, 19/9/2019).

Pesan dan kesimpulan Profesor Michael Taylor, co-author studi ilmiah yang dirilis Science edisi 2019 ini, sangat jelas. Bahwa isu pemanasan global dan perubahan iklim bukan lagi isu akademis di ruang kuliah, tetapi isu hidup atau mati di planet bumi. “It is a matter of life and death for people everywhere. People from small island States and low-lying countries are in the immediate cross-hairs of climate change. I am very concerned about the future of these people,” ungkap Professor Michael Taylor asal Dean of Science, University of the West Indies. (University of the Witwatersrand, 19/9/2019). 

Oleh: Servas Pandur