• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Ahli Nagoya University Temukan Cara Bunuh Bakteri Pathogen Kebal Antibiotik

Selama ini, banyak cara bakteri patogen bertahan hidup dalam inangnya tanpa zat besi, misalnya berevolusi melalui sistem transportasi heme untuk membajak heme ekstraselular. Namun, potensi sistem transportasi heme sebagai target antimikroba, belum banyak diriset dan dikaji oleh para ahli. Baru-baru ini riset kolaborasi tim ahli Yuma Shisaka et al (2019) asal Nagoya University di Jepang, menemukan bahwa penyerapan heme bakterial melalui protein-protein yang menjadi target antimikroba (antimicrobials), memungkinkan sterilisasi spesifik dan efektif terhadap bakteri target.

Yuma Shisaka dan koleganya (2019) memberi antimikrobial dengan menggunakan sistem akuisisi ekstrakurikuler protein A (HasA) Pseudomonas aeruginosa. Hasilnya, analog dengan serapan heme, HasA dapat mengirim antimikroba, gallium phthalocyanine (GaPc), ke dalam ruang intraseluler interaksi P. aeruginosavia HasA dengan reseptor membran luar HasR.  HasA memungkinkan GaPc yang larut dalam air, keliru diperoleh oleh P. aeruginosa, dan memungkinkan sterilisasi (> 99,99%) dengan iradiasi cahaya near-infrared (NIR), terlepas dari resistensi atau kekebalan antibiotik. (Yuma Shisaka et al, 2019).

 “When the pigment is exposed to near-infrared light, harmful reactive oxygen species are generated inside the bacterial cells. When the pigment is exposed to near-infrared light, harmful reactive oxygen species are generated inside the bacterial cells,” ungkap Profesor Osami Shoji, ahli kimia bio-organik pada Nagoya University di Jepang. (University of Nagoya, 20/9/2019).

Riset kolaborasi tim ahli itu menemukan cara membajak ‘sistem akuisisi heme’ ('haem acquisition system’) guna mengirim obat. Tim ahli itu membuat bahan bubuk dari HasA dan pigmen gallium phthalocyanine (GaPc), yang jika dipakai pada suatu kultur P. aeruginosa, dikonsumsi oleh bakterinya. Hasil uji-coba riset itu menunjukkan bahwa lebih dari 99,99% bakterinya terbunuh setelah pengobatan dengan satu mikromolar HasA dengan GaPc dan 10 menit iradiasi. (Science Daily, 20/9/2019).

Jadi, riset itu menemukan bahwa penyerapan heme bakteri melalui protein-protein adalah target yang menarik untuk anti-mikroba, yang memungkinkan sterilisasi spesifik dan efektif bakteri target. Karena penggunaan protein hem buatan (artificial haem proteins) sebagai kuda Trojan pengantar khusus antimikroba ke bakteri target, memungkinkan sterilisasi spesifik dan efektif terhadap bakteri target. Cara ini membunuh 99,9% Pseudomonas aeruginosa, bakteri mampu mematikan dan kebal antibiotik. Teknik ini juga seharusnya dapat bekerja pula terhadap bakteri berbahaya lainnya.

Hasil riset itu dirilis oleh jurnal ACS Chemical Biology, edisi Juli 2019. (Yuma Shisaka, Yusuke Iwai, Shiho Yamada, Hiromu Uehara, Takehiko Tosha, Hiroshi Sugimoto, Yoshitsugu Shiro, Joshua K. Stanfield, Kazuya Ogawa, Yoshihito Watanabe, Osami Shoji, “Hijacking the Heme Acquisition System of Pseudomonas aeruginosa for the Delivery of Phthalocyanine as an Antimicrobial”, ACS Chemical Biology, 2019).

Ahli-ahli yang terlibat dalam kolaborasi riset itu (Yuma Shisaka, et al, 2019) ialah Yuma (1) Shisaka asal 1Department of Chemistry, Graduate School of Science, Nagoya University, Furo-cho, Chikusa-ku, Nagoya di Jepang; (2) Yusuke Iwai asal 1Department of Chemistry, Graduate School of Science, Nagoya University, Furo-cho, Chikusa-ku, Nagoya di Jepang;

(3) Shiho Yamada asal Department of Chemistry, Graduate School of Science, Nagoya University, Furo-cho, Chikusa-ku, Nagoya di Jepang; (4) Hiromu Uehara asal Department of Chemistry, Graduate School of Science, Nagoya University, Furo-cho, Chikusa-ku, Nagoya di Jepang; (5)  Takehiko Tosha asal RIKEN SPring-8 Center, 1-1-1 Kouto, Sayo, Hyogo 679-5148 di Japan dan Core Research for Evolutional Science and Technology,Japan Science and Technology Agency, 5 Sanbancho, Chiyoda-ku, Tokyo 102-0075 di Jepang;

(6) Hiroshi Sugimoto asal RIKEN SPring-8 Center, 1-1-1 Kouto, Sayo, Hyogo 679-5148 di Japan dan Core Research for Evolutional Science and Technology,Japan Science and Technology Agency, 5 Sanbancho, Chiyoda-ku, Tokyo 102-0075 di Jepang; (7) Yoshitsugu Shiro asal Graduate School of Life Science, University of Hyogo, 3-2-1 Kouto, Sayo, Hyogo 678-1297 di Jepang; (8) Joshua K. Stanfield asal Department of Chemistry, Graduate School of Science, Nagoya University, Furo-cho, Chikusa-ku, Nagoya 464-8602 di Japan;

(9) Kazuya Ogawa asal 5Department of Science for Advanced Materials, Faculty of Engineering, University of Yamanashi, 4-3-11 Takeda, Kofu, Yamanashi 400-8511 di Jepang; (10) Yoshihito Watanabe asal Research Center for Materials Science, Nagoya University, Furo-cho, Chikusa-ku, Nagoya 464-8602 di Jepang; (11) Osami Shoji asal Department of Chemistry, Graduate School of Science, Nagoya University, Furo-cho, Chikusa-ku, Nagoya 464-8602 di Jepang dan Core Research for Evolutional Science and Technology, Japan Science and Technology Agency, 5 Sanbancho, Chiyoda-ku, Tokyo 102-0075 di Jepang.

Oleh: Servas Pandur