• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Jejak Makan Pala 3.500 Tahun Silam Di Banda

Kira-kira 3.500 tahun silam atau era Neolitikum, manusia pertama kali makan pala di Pulau Ay, Kepulauan Maluku. Begitu hasil riset dan kajian terhadap jejak arkeologis di Pulau Ay yang dihasilkan oleh Profesor Peter Lape, ahli antopologi pada University of Washington, Amerika Serikat (AS), kurator arkeologi pada Burke Museum di AS, peneliti asal Universitas Gadjah Mada, Negara RI, dan New South Wales di Australia. (Peter Lape, et al., 2018).

Pulau Ay, pulau batu kapur seluas kira-kira 4 km2 di Kepulauan Banda, Negara RI. Hasil riset antropologis para ahli itu menemukan pola perubahan dan kelola sumber daya laut, tembikar, dan hewan kira-kira 3.500 tahun silam. Hasil penggalian situs arkeologi itu juga menyingkap jejak arkeo-botani kira-kira 3.000 tahun silam di Pulau Ay. Hasilnya, adanya jejak arkeologis penggunaan awal tanaman Myristica fragans (pala) untuk bahan pangan era Neolithikum. Hasil riset dan kajian para ahli itu dirilis oleh jurnal Asian Perspectives, 2018 (Peter Lape, Emily Peterson, Daud Tanudirjo, Chung-Ching Shiung, Gyoung-Ah Lee, Judith Field, Adelle Coster, “New Data from an Open Neolithic Site in Eastern Indonesia”, Asian Perspectives, Vol. 57, Number 2, 2018, pp. 222-243).

Jadi, jejak awal manusia mengkonsumsi pala, ditemukan oleh tim ahli itu kira-kira 3.500 tahun silam di Banda, Maluku. “This site shows us how people adapted to living on these small tropical islands in stages, from occasional use as fishing camps to permanent occupation. It's also fascinating to see such early use of nutmeg, a spice that changed the world a few thousand years later,” ungkap Profesor Lape. (University of Washington, 3/10/2018).

Riset lapangan itu didukung oleh masyarakat dan pemerintah di Pulau Ay dan Banda Naira. Riset lapangan tahun 2007 didukung oleh National Geographic Society dan berdasarkan izin penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pemerintah Provinsi Maluku dan pemerintah setempat. Riset 2007 melibatkan kolaborasi Universitas Gadjah Mada,  University of Washington dan Balai Arkeologi Ambon. Sedangkan riset lapangan tahun 2009 antara lain didukung oleh Henry Luce Foundation dan mendapat izin dari Kementerian Riset dan Teknologi RI. 

Oleh Servas Pandur