• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Persiapan Peran Strategis Anak Untuk Bangsa dan Negara RI

Di depan Sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) 1 Juni 1945 di Jakarta, Ir. Soekarno mengutip pahlawan kemerdekaan Bangsa India dari kolonial Inggris: “Gandhi berkata : Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah peri-kemanusiaan “My nationalism is humanity“.  (Setneg RI, 1992). Mahatma Gandhi adalah model merawat persatuan kesatuan sebagai Bangsa dan Negara. Yakni kebangsaan yang berisi praktek hidup berperi-kemanusiaan dan berperi-keadilan.

Mahatma Gandhi juga lazim dikutip tentang bagaimana belajar hidup damai. Misalnya, Gandhi  berpesan bahwa jika kita hendak mengajarkan perdamaian yang hakiki di dunia ini, kita harus memulainya dari anak-anak dan bersama anak-anak. “If we are to teach real peace in this world…we shall have to begin with the children," papar Mahatma Gandhi. (Jules Carlysle, Dumbass, 2006:196; Amy Knepper, 2014:18; Mary Fox, et al., 2004: hlm. vi).

Pendidikan perdamaian, keadilan, dan peri-kemanusian, perlu dimulai sejak usia dini anak-anak. Sekitar 500 tahun pra-Masehi, guru dan filsuf asal Shantung, timur laut Tiongkok, K'ung Ch'iu (551-479 SM)—lazim disebut Confucius, berpesan :  “If your plan is for one year, plant rice; If your plan is for ten years, plant trees; If your plan is for one hundred years, educate children.” (Daniel Coenn, 2014: 3; Charles McGuire, et al., 2012:12; David P. Langford, et al., 1995:157). Jadi, jika ingin hidup 100 tahun, didiklah anak-anak. Di sini pula letak peran dan posisi strategis anak-anak untuk kehidupan suatu Bangsa dan Negara.

Masih dari era 500 tahun pra-Masehi, guru Lao Tzu asal Tiongkok berpesan : ‘Melihat segala sesuatu sejak semai-bibit, itulah jenius!” (“To see things in the seed, that is genius.”) (Hagopian Institute, 2008: 38; Kaneen Morgan, 2013:159). Jadi, bagaimana Bangsa dan Negara RI tahun 2030, 2050, cukup dilihat pada bagaimana anak-anak kita dipersiapkan sejak usia dini saat ini. Anak-anak kita adalah gambar masa depan Bangsa dan Negara RI.

Kita lihat awal abad 21, anak-anak dan remaja di Amerika Serikat (AS) dilanda oleh epidemik obesitas atau kelebihan berat. Begitu hasil riset lembaga Institute of Medicine (IOM) dari Washington (AS) tahun 2012. Bukan cuma AS, negara-negara lain juga mengalami epidemik obesitas. Misalnya. badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), World Health Organization (WHO), merilis laporan tahun 2010 bahwa ada sekitar 35 juta anak obesitas di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Selatan, dan sekitar 8 juta anak obesitas di negara Eropa, Amerika Utara, Singapura, dan Jepang.

Obesitas hanya satu dari gejala kurangnya olahraga fisik anak-anak. Sisi lain dari risiko anak-anak tanpa olahraga atau kerja fisik ialah kendala kognisi dan kerja fungsi otak. Hasil riset empirik Caitlin Lees, MD, MA dan Jessica Hopkins, MD, MHSc, di Amerika Serikat menemukan bahwa Aerobic physical activity (APA) berdampak positif terhadap kognisi, fungsi psiko-sosial, dan prestasi akademis anak-anak (Caitlin Lees, 2013).

Jurnal Journal of Sport and Health Science edisi Febuari 2012, merilis hasil riset dan kajian sekitar 132 ahli dari berbagai universitas dan pusat riset dunia, perihal pengaruh dan manfaat positif olahraga terhadap perkembangan kerja fungsi otak anak-anak atau fungsi kognitif hingga pembentukan kepribadian anak-anak. Ada beragam istilah olahraga disebut oleh para ahli itu antara lain physical activity (PA), physical fitness (PT), habitual physical activity (HPA), dan aerobic fitness (AF).

Ahli-ahli dan peneliti yang terlibat dalam riset dan kajian tentang manfaat olahraga terhadap kerja dan fungsi otak anak dan pembentukan kepribadiannya (character-building) itu, antara lain Zhusheng Yu asal School of Kinesiology, Shanghai University of Sport, Shanghai (Tiongkok); Eszter Vo¨lgyi asal Department of Health Sciences, University of Jyva¨skyla¨ (Finlandia); Andrea Ember asal Faculty of Physical Education and Sport Sciences, Semmelweis University, Budapest (Hongaria); Frances A. Tylavsky asal Department of Preventive Medicine, University of Tennessee Health Science Center, Memphis (Amerika Serikat); Markku Ale´n asal Department of Medical Rehabilitation, Oulu University Hospital and Institute of Health Sciences, University of Oulu (Finlandia); Keith Tolfrey asal School of Sport, Exercise and Health Sciences, Loughborough University (Inggris).

***

Di Negara RI, 6 September 2019, Presiden RI Joko Widodo menanda-tangan Peraturan Pemerintah (PP) No. 59/2019 tentang Penyelenggaraan Koordinasi Perlindungan Anak. PP ini melaksanakan Pasal 73A ayat (3) Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Sasaran PP itu antara lain (a) meningkatkan upaya pemenuhan Hak Anak dan Perlindungan Khusus Anak; (b) meningkatkan hubungan kerja yang sinergi dan dan harmonis dalam pemenuhan Hak Anak dan Perlindungan Khusus Anak; dan (c) memperoleh data dan informasi penyelenggaraan Perlindungan Anak. Penyelenggara dan penanggungjawab ialah Menteri, lembaga terkait, gubernur, bupati atau wali kota di Negara RI. 

Sedangkan hak-hak anak yang harus dilindungi oleh Negara (Pemerintah) ialah (a) pemenuhan hak sipil dan kebebasan; (b) lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; (c) pemenuhan hak kesehatan dasar dan kesejahteraan; dan (d) pemenuhan hak pendidikan, waktu luang, budaya, dan rekreasi. PP No. 59/2019 berlaku sejak 12 September 2019.

PP itu juga khusus mengatur Perlindungan Khusus Anak : (a) Anak dalam situasi darurat; (b) Anak yang berhadapan dengan hukum; (c) Anak dari kelompok minoritas dan terisolasi; (d) Anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual; (e) Anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya; (f). Anak yang menjadi korban pornografi; (g) Anak dengan HIV/AIDS; (h) Anak korban penculikan, penjualan, dan/atau perdagangan; (i) Anak korban kekerasan fisik dan/atau psikis; (j) Anak korban kejahatan seksual; (k) Anak korban jaringan terorisme; (l) Anak penyandang disabilitas; (m) Anak korban perlakuan salah dan penelantaran; (n) Anak dengan perilaku sosial menyimpang; dan (o) Anak yang menjadi korban stigmatisasi dari pelabelan terkait dengan kondisi orang tuanya.

PP No. 59/2019 tentu saja bernilai strategis dalam rangka mempersiapkan generasi baru Bangsa dan Negara RI. Hal pokok lainnya ialah program-program atau bentuk-bentuk perlindungan anak-anak atau pelayanan hak-hak anak di Negara RI. Hasil-hasil riset ilmiah yang diuraikan di atas, memberi gambaran jelas bahwa satu dari program pokok mempersiapkan anak-anak untuk generasi masa datang Bangsa dan Negara RI ialah program pendidikan olahraga sejak usia dini.

Dulu tahun 1962, Presiden RI Soekarno merilis strategi membangun ‘Manusia Indonesia Baru’ yakni melalui pendidikan olahraga. Visi strategis Presiden RI Soekarno itu dijabarkan melalui Keputusan Presiden RI Soekarno No. 131 tahun 1962. ‘Manusia Indonesia Baru’ ialah “Manusia Indonesia jang tegak dan kuat fisik, mental, rochani dan djasmani, berdjiwa Pantja-sila dan pelaksanaan Amanat Penderitaan Rakjat jang ulet.”

Sedangkan jenis olahraga untuk meraih cita-cita Manusia Indonesia Baru, menurut Presiden RI Soekarno, yaitu “Olahraga dalam arti seluas-luasnya, meliputi segala kegiatan atau usaha untuk mendorong, membangkitkan dan membina kekuatan jasmaniah maupun rohaniah pada tiap manusia.” Visi strategis Presiden Soekarno ini juga sama dengan saran Ang Chen (2012:172) asal Department of Kinesiology, University of North Carolina di Greensboro, Amerika Serikat, bahwa olahraga adalah obat dan vaksin (“Exercise is medicine” dan  “exercise is vaccine”).

Oleh karena itu, tiba saatnya, Pemerintah Daerah dan para penyelenggara pendidikan anak-anak usia dini untuk mempersiapkan generasi masa datang Bangsa dan Negara RI melalui pendidikan olahraga berbasis local content, sejarah, tradisi, dan adat-budaya per daerah di Negara RI yang melahirkan dan membentuk karakter Bhinneka Tunggal Ika, meningkatkan kinerja fungsi otak, menyehatkan fisik, mencegah obesitas, dan merawat nilai-nilai alam lokal dan tradisi per daerah di Negara RI kini dan masa datang. 

 

 

 

 

 


 

Oleh: Komarudin Watubun