• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Tiga Faktor Identitas Agama Pengaruhi Pekerjaan

Tiga faktor identitas agama dapat mempengaruhi karya atau pekerjaan seseorang di suatu lingkungan pekerjaan. Yakni  (1) pandangan dan penilaian karyawan tentang agama dan orang beragama; (2) kesempatan menyatakan identitas agamanya pada lingkungan pekerjaan; (3) karakter keyakinan agama karyawan. Begitu hasil kajian Profesor Denise Rousseau, ahli kebijakan publik dan perilaku oganisasi pada Heinz College Carnegie Mellon University di Amerika Serikat (AS) dan koleganya dari University of Surrey, London School of Economics di Inggris, Kingston University London di Inggris, and the University of Edinburgh. Hasil kajian (analisa) itu dirilis oleh jurnal Human Resource Management edisi Juli, 2019.

“Our study suggests that organizations can enhance the benefit of employees' religious identity while reducing tension and conflict. Of critical importance is the psychological safety the organization provides all its members, a key factor in workforce well-being and effectiveness,” ungkap YingFei Héliot, dosen perilaku organisasi pada University of Surrey, yang memimpin studi ilmiah ini. (Carnegie Mellon University, 8/10/2019)  Namun, keterbatasan studi ilmiah ini karena hanya berasal dari studi-studi ilmiah berbahasa Inggris atau lingkungan Anglo-Saxon.

Tim ahli itu mengkaji anatomi hasil riset topik identitas agama, karya, dan lingkungan pekerjaan dari sekitar 53 publikasi ilmiah hasil studi lapangan bidang manajemen, psikologi, sosiologi, dan pekerjaan. Tim peneliti mensintesa bukti pengaruh identitas agama terhadap perilaku dan keputusan seseorang di lingkungan pekerjaannya, khususnya sangketa, penghargaan terhadap perbedaan, peran, tanggung jawab,  pelayanan, produktivitas, kesejahteraan, dan lain-lain. (Héliot, et al., 2019).

Hasil sintesa dan kajian para ahli itu menyimpulkan tiga faktor identitas agama yang mempengaruhi seseorang karyawan atau pimpinan dalam suatu lingkungan pekerjaan, yakni (1) pilihan seseorang : pandangan dan penilaian seseorang tentang agama dan orang beragama dapat mempengaruhi kinerjanya pada  suatu lingkungan pekerjaan, kesejahteraan, dan kualitas hubungan kerja; (2) kesempatan menyatakan identitas agamanya pada suatu lingkungan pekerjaan; karyawan yang bebas menyatakan identitas agamanya di lingkungan pekejaan, lebih produktif dan sejahtera; (3) karakter keyakinan agama karyawan mempengaruhi cara interaksi identitas agama seseorang dengan lingkungan pekerjaannya; misalnya, nilai dan praktek kasih-sayang di bidang pelayanan kesehatan mental dan fisik. (Héliot, et al., 2019).

Proyek riset itu didanai oleh H.J. Heinz II Research Chair dari Rousseau. Ahli-ahli yang terlibat dalam proyek riset yaitu (1) YingFei Héliot dari Surrey Business School, University of Surrey, Guildford di Inggris; (2) Ilka H. Gleibs dari Department of Psychological and Behavioural Science, London School of Economics, London di Inggris; (3) Adrian Coyle dari Department of Psychology, School of Law, Social & Behavioural Sciences, Kingston University London, London di Inggris: (4)  Denise M. Rousseau dari Heinz College and Tepper School of Business, Carnegie Mellon University, Pittsburgh, Pennsylvania di Amerika Serikat; dan (5) Céline Rojon dari University of Edinburgh, Business School, Edinburgh di Inggris. (Héliot, et. al., 2019).

Dari hasil kajiannya, para peneliti itu menyarankan agar organisasi atau manajemen perusahan mendukung karyawan menyatakan identitas agamanya secara inklusi (terbuka, adil, dan setara) dan menghargai perbedaan. Bentuknya antara lain (1) kejelasan nilai toleransi dan penghargaan terhadap klien, pelanggan, dan mitra-kerja; (2) menyadari dan melindungi perbedaan dogma masing-masing agama dan kewajiban legalnya guna mengakomodasi ekspresi keagamaan; (3) saling menghargai satu-sama lain dan martabat tiap karyawan atau tiap orang; (4) program dan panduan bagi para manajer merespons kebutuhan dan pelayanan hak melaksanakan ibadat agama bagi karyawan; (5) penyelesaian damai, musyawarah, dan mufakat atas konflik nilai pribadi dan organisasi di lingkungan pekerjaan.

“Religious identity is an inherent facet of workforce diversity, one that organizations and managers should be prepared to address. Despite recent attention to the faultlines and conflicts associated with religious identity in the workplace, we conclude that religious identity tends to be a net benefit to an organization and its members,” ungkap Profesor Denise Rousseau, ahli kebijakan publik dan perilaku oganisasi pada Heinz College, Carnegie Mellon University (Amerika Serikat) yang terlibat dalam riset itu. (Carnegie Mellon University, 8/10/2019). 

 

Oleh: Servas Pandur