• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Bukti Pertama Ikan Simpan Memori Magnetik Arus Air

Sejak remaja, belut kaca (glass eels) di zona perairan Eropa – Atlantik, Anguilla anguilla, membentuk dan menanam (menyimpan) memori magnetik tentang arus air di zona muara perairan Eropa-Atlantik.  Begitu hasil riset dan penemuan Alessandro Cresci, mahasiwa S3 (PhD) pada UM Rosenstiel School dan koleganya pada University of Miami (UM) Rosenstiel School of Marine and Atmospheric Science dan Institute of Marine Research di Norwegia,  yang dirilis oleh jurnal Communications Biology, edisi Oktober 2019.

Selama ini, belut Eropa bernilai komersial (ekonomis); namun, terancam punah; misalnya, laporan International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyebutkan bahwa populasi belut kaca Eropa menurun drastis sejak tahun 1980.

 “It's an important step forward in understanding the migratory behavior of the commercially important European eel and in expanding our knowledge of the orientation mechanisms that fish use to migrate. This research should provide awareness that tiny young eels can accomplish incredible tasks to migrate,” ungkap Alessandro Cresci, penulis utama karya ilmiah itu. (University of Miami Rosenstiel School of Marine & Atmospheric Science, 17/10/2019)

Saat ini, Alessandro Cresci merupakan mahasiswa tingkat S3 (PhD) dengan fokus riset “Behavior and movement ecology of aquatic animals with focus on their orientation mechanisms”. Pembimbingnya ialah Dr. Josefina Olascoaga; alamat email Alessandro Cresci yakni alessandro.cresi@rsmas.miami.edu.

Spesies belut Eropa (Anguilla anguilla) melintasi Samudra Atlantik dua kali selama hidupnya. Setelah menetas Laut Sargasso, dengan Arus Teluk, larva belut bergerak lebih dari 5.000 kilometer hingga mencapai lekukan benua Eropa. Di sana, belut Eropa bermetamorfosis menjadi belut kaca transparan pasca-larva dan melintasi landas kontinen ke pantai.

Setelah mencapai pantai, belut kaca memasuki muara; beberapa hari kemudian, belut kaca migrasi ke hulu ke air tawar hingga hidup usia 50 tahun; Ketika belut berubah wana perak, mereka menavigasi kembali ke Laut Sargasso untuk bertelur dan mati. (Science Daily, 17/10/2019).

Belut Eropa (Anguilla anguilla) menetas di Laut Sargasso dan bermigrasi ke air tawar Eropa dan Afrika Utara. Belut kaca mencapai muara dan menjadi berpigmen. Belut kaca memakai kompas magnetiknya sesuai fase pasang surut untuk orientasi arus air; namun, belum diketahui, apakah arah magnetiknya bawaan atau tercetak selama migrasi. (Alessandro Cresci, et al., 2019:1).

Alessandro Cresci dan koleganya menguji hipotesis bahwa belut kaca menanamkan arah kompas magnetik sesuai pasang surut di muara rekrutnya . Tim peneliti mengumpulkan 222 belut kaca dari muara yang mengalir dengan arah mata angin yang berbeda di Austevoll, Norwegia. Tim peneliti itu mengamati orientasi belut kaca di laboratorium magnetik dengan magnet Utara diputar.

Belut kaca diorientasikan ke arah magnetis dari arus pasang surut di muara asalnya. Belut kaca menggunakan kompas magnetiknya untuk mengingat arah magnetik dari arus pasang surut. Mekanisme ini dapat membantu belut kaca mempertahankan posisinya di sebuah muara dan bermigrasi ke hulu. (Alessandro Cresci, et al., 2019:1).

“Surprisingly, fish early life behavior can be goal oriented.This study complements previous findings showing innate magnetic sense in glass eels and highlights the importance of understanding the complexities of larval behavior. There is a lot we need to learn,” papar

Profesor Claire B. Paris, ahli kelautan (ocean sciences) pada UM Rosenstiel School. (Diana Udel/ University of Miami Rosenstiel School of Marine & Atmospheric Science, 17/10/2019).

Profesor Claire B. Paris-Limouzy adalah oseanografer biologis dengan latar-pendidikan dan keahlian beragam misalnya ekologi, oseanografi pantai, dan pemodelan numerik dengan menggunakan Open-Source Software (OSS) seperti Connectivity Modeling System (CMS) yang secaa virtual dapar melacak partikel-partikel biotik dan a-biotik di lautan.

Profesor Claire B Paris-Limouzy(c.parislimouzy@miami.edu) juga ahli bidang perilaku tahap larva pelagik pada pola-hubungan populasi kelautan dan fungsi eko-sistem. Fokus risetnya, antara lain, dispersi bio-fisik di laut, termasuk transportasi dan aliran polutan, debis, dan minyak dari laut dalam (deep-sea) pada lab Physical-Biological Interactions Lab. (University of Miami, 2019).

Proyek riset itu melibatkan ahli-peneliti, yaitu (1) Alessandro Cresci dan Profesor Claire B. Paris dari UM Rosenstiel School; (2) Caroline M. Durif, Anne-Berit Skiftesvik, dan Howard I. Browman dari Austevoll Research Station, Institute of Marine Research;

(3) Steven D. Shema dari Grótti ehf di Iceland.  Proyek riset itu didukung  oleh Paris Lab, UM Rosenstiel School dan didanai oleh hibah U.S. National Science Foundation (NSF-OCE 1459156), Norwegian Institute of Marine Research (project 81529) dan Research Council of Norway (project 234338). (Science Daily, 17/10/2019).

Hasil riset tim ahli itu dirilis oleh jurnal Communications Biology, 2019 (Alessandro Cresci, Caroline M. Durif, Claire B. Paris, Steven D. Shema, Anne Berit Skiftesvik, Howard I. Browman, “Glass eels (Anguilla anguilla) imprint the magnetic direction of tidal currents from their juvenile estuaries”, Communications Biology, 2019). 

 

 

Oleh: Servas Pandur