• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Gempa Dapat diperkirakan 5 (Lima) Hari Sebelumnya

Kodok puru (Bufo bufo) di sejumlah zona Eropa, yang lazim disebut ‘toad’ di zona berbahasa Inggris Eropa, dapat melacak gelombang seismik (gempa) yang akan datang dan mengubah perilaku berkembang-biaknya ke mode evakuasi. Begitu hasil riset Dr. Rachel Grant dan koleganya pada Open University di Inggris, yang dirilis oleh Journal of Zoology edisi akhir Maret tahun 2010. (Dr. Rachel Grant, et al., 2010).

 “Our study is one of the first to document animal behaviour before, during and after an earthquake. Our findings suggest that toads are able to detect pre-seismic cues such as the release of gases and charged particles, and use these as a form of earthquake early warning system,” ungkap Dr. Rachel Grant, lead-author karya ilmiah itu. (Zoological Society of London, 30/3/2010).

Studi ilmiah Dr. Rachel Gant dkk (2010) misalnya meneliti kodok puru jantan yang meninggalkan situs pengembang-biakannya 5 (lima) hari jelang gempa melanda L'Aquila di Italia tahun 2009. Lokasi perkembang-biakan katak puru itu terletak sekitar 74 km dari pusat gempa. Perubahan perilaku pekembang-biakan katak puru itu bertepatan dengan gangguan di ionosfer, lapisan elektromagnetik teratas atmosfer bumi, yang terlacak melalui gelombang radio sangat rendah (very low frequency/ VLF). (Science Daily, 1/4/2010).

Pelepasan gas radon, atau gelombang gravitasi sebelum gempa bumi berhubungan dengan perubahan medan listrik atmosfer dan arus. Dalam hal ini, penyebab gangguan ionosfer tidak ditentukan. Tim peneliti itu juga memperhitungkan perubahan lingkungan pemicu perilaku kodok puru, misalnya fase-fase bulan dan perubahan cuaca. (Science Daily, 1/4/2010).

Jurnal Journal of Zoology diterbitkan oleh Zoological Society of London (Inggris),  lembaga nirlaba bidang pendidikan, konservasi, dan ilmiah, yang didirikan tahun 1826. Fokus lembaga internasional ini ialah konservasi binatang-binatang dan habitatnya.

Baru-baru ini, hasil riset dan kajian Profesor Sergey I. Popel asal HSE Faculty of Physics dan Ketua lab RAS Space Research Institute (IKI) di Rusia dan koleganya asal sejumlah perguruan tinggi dan pusat riset di Rusia, menyingkap perubahan-perubahan dalam parameter-parameter gelombang-gelombang gravitasi internal  (internal gravity waves/IGWs) planet Bumi sebelum dan sesudah gempa melanda Uzbekistan 26 Mei 2013 dan di Kyrgyzstan 8 Januari 2007. Hasil riset dan kajian Profesor Sergey Popel dkk dirilis oleh jurnal Doklady Earth Sciences edisi Juli 2019.

Perubahan-perubahan parameter-parameter gelombang-gelombang gravitasi internal planet Bumi sebelum dan sesudah gempa selama ini belum diketahui oleh para ahli. Namun, berdasarkan data studi eksperimental gangguan gelombang pada atmosfer Bumi sebelum dan sesudah kedua gempa tersebut, Profesor Sergey I. Popel dan koleganya menyingkap perubahan-perubahan gelombang gravitasi internal yang terjadi selama 5 (lima) hari sebelum kedua tragedi gempa itu. Dalam beberapa kasus, perubahan-perubahan gravitasi internal ini dapat digunakan untuk memperkirakan jangka waktu pendek atau beberapa hari sebelum aktivitas-aktivitas seismik (gempa) bakal terjadi.  (V. V. Adushkin, et al.,, 2019).

Profesor Sergey I. Popel dkk (2019) mengolah data satelit tentang gempa bumi di beberapa daerah seismik aktif di Uzbekistan 26 Mei 2013,  Kirgistan 8 Januari 2007 dan di Kazakhstan 28 Januari 2013. Hasilnya, lima hari sebelum bencana seismik (gempa), dalam ketiga gempa tersebut, parameter gelombang gravitasi internal (IGW) berubah. IGW adalah fluktuasi massa udara (air masses), yang berbeda dengan gelombang suara (sound waves), memanjang dan  memiliki komponen melintang.

Profesor Sergey Popel dkk (2019) mengamati perilaku suhu atmosfer tengah (lapisan atmosfer bumi yang mencakup stratosfer dan mesosfer) dari waktu ke waktu. Kemudian, tim ahli itu menentukan panjang gelombang IGW. Hasilnya, masing-masing panjang gelombang maksimum adalah 14,2 km dan 18,9 km; IGW dengan panjang gelombang vertikal lebih dari 10 km, dapat muncul selama periode pemanasan konvektif . Hasil penelitian ini dapat dipakai untuk mengetahui IGW wilayah aktif seismik untuk membuat perkiraan jangka pendek seismik yang bakal terjadi. Jadi, data satelit dapat membantu prediksi bencana-bencana gempa (seismic disasters).

“This means that processes occur in the Earth's lithosphere, the development of which gives rise to convective instabilities in the lower atmosphere. They are the cause of IGW in seismically active regions. Internal gravity waves, once they reach mesosphere, can be destroyed. When this happens, the IGW energy transforms into thermal motion, which affects the temperature,” papar Profesor Sergey Popel, satu dari penulis karya ilmiah ini. (National Research University Higher School of Economics, 23/10/2019).

Hasil riset Profesor Sergey Popel dkk (2019) itu dirilis oleh jurnal Doklady Earth Sciences (V. V. Adushkin, et al., “Variations of the Parameters of Internal Gravity Waves in the Atmosphere of Central Asia before Earthquakes”, Doklady Earth Sciences, July 2019, Volume 487, Issue 1, pp 841–845). 

Proyek riset itu melibatkan sejumlah ahli dari berbagai perguruan tinggi dan pusat riset geologi dan teknologi yakni (1) V. V. Adushkin asal Institute for Dynamics of Geospheres of the Russian Academy of Sciences dan Moscow Institute of Physics and Technology; (2)  V. I. Nifadiev, B. B. Chen dan G. A. Kogai asal Kyrgyz-Russian Slavic University; (3) S. I. Popel asal Space Research Institute of the Russian Academy of Sciences dan Higher School of Economics; (4) A. Yu. Dubinskii asal Space Research Institute of the Russian Academy of Sciences; (5)  P. G. Weidler asal Karlsruhe Institute of Technology. 

 

 

 

Oleh: Servas Pandur