• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Emisi CO2 dari Erosi Permafrost Pengaruhi Siklus karbon dan Iklim

Erosi pantai permafrost mempengaruhi siklus karbon dan sistem iklim akhir-akhir ini. Begitu kesimpulan riset terhadap erosi pantai permafrost Artik dari Dr. George Tanski dkk (2019) asal Faculty of Science, Earth and Climate, Vrije Universiteit Amsterdam, Amsterdam di Belanda  dan  Permafrost Research Unit, Alfred Wegener Institute, Helmholtz Centre for Polar and Marine Research, Potsdam di Jerman. Hasil riset tim ahli asal Jerman dan Belanda itu dirilis oleh jurnal Geophysical Research Letters edisi 15 Oktober 2019.

Pesisir-pesisir permafrost—lapisan tanah bawah permukaan yang tebal dan beku sepanjang tahun di zona kutub-- membentuk sekitar sepertiga dari total garis pantai planet Bumi. Akibat perubahan iklim semakin cepat, seluruh bagian garis pantai cepat mencair, dan mengikis ke Samudra Arktik. Sepanjang garis pantai permafrost yang terkikis di Kutub Utara berpotensi memproduksi sejumlah besar karbon dioksida.

“Carbon budgets and climate simulations have so far missed coastal erosion in their equations even though it might be a substantial source of carbon dioxide. Our research found that the erosion of permafrost coastlines can lead to the rapid release of significant quantities of CO2, which can be expected to increase as coastal erosion accelerates, temperatures increase, sea ice diminishes, and stronger storms batter Arctic coasts,” ungkap lead-author studi ilmiah ini Dr. George Tanski asal Vrije Universiteit Amsterdam. (GFZ GeoForschungsZentrum Potsdam, Helmholtz Centre, 8/11/2019).

George Tanski dkk (2019) membuat simulasi efek erosi di lab guna mengetahui jumlah emisi karbon ke atmosfer sepanjang erosi pantai es kutub utara Artik. Tim ahli itu mengumpulkan sampel permafrost dari Qikiqtaruk (Pulau Herschel) di lepas pantai utara Yukon, barat laut Kanada, dan air laut dari lepas pantai. Tim peneliti mencampur sampel permafrost dan air laut dan kemudian mengukur emisi gas rumah selama empat bulan, selama rata-rata musim air-terbuka (open-water season) di Arktik.

Hasilnya, emisi karbon dioksida (CO2) secepat pencairan lapisan es di air laut seperti halnya pencairan es di darat. Sehingga erosi permafrost sepanjang pantai pantai, pantai-daratan (onshore) dan perairan dekat pantai menghasilkan potensi besar emisi CO2. Tiap gram (berat kering) erosi permafrost melepas emisi CO2 4,3 ± 1,0 mg dan 6,2 ± 1,2% dari OC (organic carbon)  awal yang termineralisasi pada suhu 4 ° C. Sehingga erosi pentai berperan penting atau sangat mempengaruhi siklus karbon (carbon cycling) dan sistem iklim (climate system).

Proyek riset itu melibatkan sejumlah ahli yaitu (1) Dr. George Tanski; (2) D. Wagner asal GFZ German Research Centre for Geosciences, Potsdam di Jeman dan Institute of Geosciences, Potsdam University, Potsdam di Jerman; (3) C. Knoblauch asal Institute of Soil Science, Universität Hamburg, Hamburg di Jerman dan Center for Earth System Research and Sustainability, Universität Hamburg, Hamburg di Jeman; (4) H. Lantuit asal Permafrost Research Unit, Alfred Wegener Institute, Helmholtz Centre for Polar and Marine Research, Potsdam di Jerman dan Institute of Geosciences, Potsdam University, Potsda di Jerman.

Studi ilmiah itu merupakan proyek riset Nunataryuk yang dikoordinasi oleh Alfred Wegener Institute, Helmholtz Centre for Polar and Marine Research (AWI). Ketika itu, Dr. George Tanski masih berkarya di AWI dan GFZ German Research Centre for Geosciences. (Helmholtz Centre Potsdam, 8/11/2019). 

Oleh: Servas Pandur