• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Perluasan Zona Perkotaan Bakal Picu Suhu ‘Esktra’ & Ekstrim

Beberapa dekade mendatang, pertumbuhan daerah perkotaan bakal memicu suhu panas “ekstra” dan ekstrim akibat efek pulau panas perkotaan (urban heat island / UHI) di planet Bumi hingga tahun 2050. Begitu perkiraan hasil riset tim ahli Yale School of Forestry & Environmental Studies (F&ES) di Amerika Serikat, yang dirilis oleh jurnal Environmental Research Letters edisi 14 November 2019. Proyek riset itu didanai oleh NASA Land Cover / Land Use Change di Amerika Serikat dan  National Key R & D Program of China asal Tiongkok.

Penduduk planet bumi bakal bertambah sekitar 2-3 miliar hingga tahun 2050 yang memicu perluasan lahan perkotaan sekitar 0,6 – 1,3 juta km2 antara 2015-2050 atau lonjakan sekitar 78% - 171% lebih dari jejak perkotaan (urban-footprint) tahun 2015. Perluasan lahan kota ini bakal memicu lonjakan suhu panas siang dan malam hari sekitar 0,5 -0,7 derajat Celsius, atau hingga 3 derajat Celsius pada beberapa kota. Efek Urban heat island (UHI) adalah kondisi zona kota lebih panas dari wilayah sekitarnya, termasuk efek-efek iklim lokal yang terdiri dari efek-efek gas rumah kaca skala global.

“We know that 60 to 70 percent of the world's population will be living in urban areas by midcentury. So if you don't know the change in urban heat island and you only focus on climate change from greenhouse gas-emissions, then you are underestimating the level of warming and heat that two-thirds of the global population will be exposed to, “ungkap Kangning Huang, kandidat doktor (Ph.D) pada F&ES dan lead author karya ilmiah ini di Environmental Research Letters. (Yale School of Forestry & Environmental Studies, 14/11/2019).

Kangning Huang dkk (2019) memperkirakan bahwa suhu panas perkotaan itu sekitar separuh atau bahkan dua kali efek panas akibat emisi-emisi efek rumah-kaca (greenhouse gas / GHG). Lonjakan pas ‘ekstra’ perkotaan itu bakal memicu risiko suhu panas ekstrim kira-kira separuh penduduk perkotaan planet Bumi hingga tahun 2050. Perkiraan risiko ini terutama bakal melanda khususnya kota-kota zona tropis Global South karena kurang atau rapuhnya kapasitas respons dan adaptasi suhu panas ekstra dan ekstrim. (Science Daily, 14/11/2019)

“If you want to do a comprehensive assessment of the risk of warming, you need to have this information. Climate impacts depend on location; it will be different, for instance, from Florida to California. So it's important to know where people are living and the resulting size of the urban areas,” ungkap Huang. (Yale School of Forestry & Environmental Studies, 14/11/2019).

Tim peneliti F&ES itu tidak mengajukan rekomendasi kebijakan khusus kecuali menyarankan agar Pemerintah dan negara-negara di zona Global South membatasi dan meredistribusi perluasan perkotaan dan merencanakan dan mengembangkan strategi dan program mitigasi UHI guna mengurangi dampak lonjakan suhu ekstrim dan eksta terhadap kesehatan manusia, sistem energi, ekosistem kota, dan infrastruktur.

“This is the first and only study that projects urban land expansion globally through 2050. It fills a critical knowledge gap in understanding the resource demands of future urbanization, such as for land, energy, materials. At the same time, this study also helps us understand how cities can modify their local environment to mitigate the impacts of urban-induced changes in local and regional temperatures,” papar Karen C. Seto asal F&ES yang terlibat dalam riset dan penulisan karya ilmiah itu. (Yale School of Forestry & Environmental Studies, 14/11/2019).

Hasil riset Kangning Huang dkk (2019) menunjukkan bahwa lonjakan zona dan penduduk kota dekade mendatang antara lain dipicu oleh pertumbuhan ekonomi, topografi, dan jaringan transportasi. Dengan model matematis, tim peneliti itu membuat perkiraan intensifikasi efek suhu panas perkotaan (urban heat island / UHI) ke skala tingkat daerah dan kawasan pada resolusi 5 km2.

Riset tim ahli itu juga melaporkan perkiraan bahwa sekitar 70% lahan-lahan kota baru bakal terpusat di zona-zona tropis dan iklim sedang. Di Eropa dan Amerika Utara, perluasan kota bakal terpusat di zona-zona dingin dan sedang; di Tiongkok,perluasan kota bakal terjadi di zona-zona iklim sedang timut atau selatan Tiongkok; di Amerika Selatan, Asia Tenggara, dan Sub-Sahara Afrika, perluasan kota bakal terpusat di zona tropis.

Proyek riset itu melibatkan (1) Kangning Huang asal Yale School of Forestry and Environmental Studies, Yale University, New Haven, CT06511, United States of America (Amerika Serikat); (2) Xia Li asal School of Geographic Sciences, Key Lab. of Geographic Information Science (Ministry of Education), East China Normal University, Shanghai 200241, People’s Republic of China (Tiongkok);

(3) Xiaoping Liu asal Guangdong Key Laboratory for Urbanization and Geo-simulation, School of Geography and Planning, Sun Yat-Sen University, Guangzhou 510275, People’s Republic of China (Tiongkok); dan (4) Karen C Seto asal Yale School of Forestry and Environmental Studies, Yale University, New Haven, CT06511, United States of America (Amerika Serikat). (Kangning Huang, Xia Li, Xiaoping Liu, Karen C Seto, “Projecting global urban land expansion and heat island intensification through 2050”, Environmental Research Letters, 2019). 

 

Oleh: Servas Pandur