• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Polusi Logam: Ancaman Terhadap Koral Di Lautan Sedang Panas

Polusi logam (metal-pollution), misalnya dari limpasan pertanian dan pencucian cat lambung kapal, mengancam kehidupan sea-fan (gorgonia) karang lunak di sekitar perairan laut Puerto Rico (AS); polusi logam itu mempengaruhi proses alamiah penyakit (disease) di oktoral-oktoral; karena itu, sangat penting mekanisme atau sistem kekebalan (immune mechanisms) melalui lingkungan terhadap wabah karang laut. (Allison M. Tracy et al., 2019)  

Begitu kesimpulan dan hasil riset Allison M. Tracy, PhD, et al. asal Cornell University, Amerika Serikat, terhadap pengaruh polusi logam tembaga di laut dengan suhu panas (warming oceans) terhadap soft coral sea fans (gorgonia karang lunak); hasil riset itu dirilis dirilis oleh jurnal Ecological Applications, edisi 19 Oktober 2019. (Allison M. Tracy, Ernesto Weil, C. Drew Harvell, “Warming and pollutants interact to modulate octocoral immunity and shape disease outcomes”, Ecological Applications, 2019).

“We know warming oceans pose an existential threat to coral reefs around the world. Action to alleviate the impact of warming oceans is a priority, but understanding the role of pollutants in coral disease and mortality gives us more options for solutions,” ungkap ekolog Allison Tracy, PhD, yang melakukan riset bersama dengan Profesor C. Drew Harvell, ahli biologi kelautan asal Cornell University. Tim peneliti itu meriset 175 koloni sea-fan individual pada berbagai situs dengan konsentasi tembaga pada endapan di 15 lokasi terumbu karang sekitar Puerto Rico. (Blaine Friedlander / Cornell University, 19/11/2019).   

Meskipun upaya-upaya konservasi koral mencakup pula faktor-faktor skala global, misalnya lonjakan pemanasan, namun pengurangan polutan-polutan tembaga (copper) dan lainnya untuk menjaga kesehatan koral skala lokal tentu dapat membantu koral-koral melawan wabah di suatu lingkungan laut yang panas. (Allison M. Tracy et al., 2019). 

Allison M. Tracy et al. (2019) meneliti pengaruh lonjakan pemanasan lautan (warming oceans) dan polusi tembaga (copper pollution) terhadap kekebalan inang dan risiko wabah dari dua wabah pada oktoral kawsan Karibia (sea fan Gorgonia ventalina). Tim peneliti itu melakukan survei gradien pemusatan sedimen tembaga di Puertorico, Amerika Serikat; hasilnya, kekebalan selular sea-fans meningkat 12,6% pada konsentrasi sedimen tembaga yang tinggi; sedangkan pemulihan dari multifocal purple spots disease (MFPS) cenderung merosot; keparahan MFPS di zona itu meningkat pada situs-situs laut lebih panas.

Sedangkan hasil uji-coba pada suatu lab terkontrol menunjukkan bahwa sea-fans diinokulasi dengan kultur-kultur hidup dari satu parasit   labyrinthulid untuk menguji efek-efek interaktif antara suhu dan tembaga pada aktivasi kekebalan. Hasilnya, seperti halnya di survei lapangan, polusi tembaga tinggi menginduksi lebih besar terhadap kekebalan; desain faktorial uji-coba itu menyingkap bahwa

tembaga dan suhu berinteraksi untuk memodulasi respon kekebalan terhadap parasit: kepadatan sel imun meningkat dengan suhu tinggi pada konsentrasi tembaga lebih rendah, tetapi tidak dengan konsentrasi tembaganya tingg; kerusakan jaringan juga lebih besar pada uji-coba dengan konsentrasi tembaga yang lebih tinggi dan suhu yang lebih panas.( Allison M. Tracy et al., 2019).

“The patterns we saw in immune markers are important because they show a mechanism through which copper and warming oceans can impair the corals' health,” ungkap Allison M. Tracy, PhD. (Blaine Friedlander / Cornell University, 19/11/2019).

Hasil uji-coba lab dan studi lapangan dari Allison M. Tracy et al. (2019) itu membuktikan bahwa tingginya konsentrasi (polusi) tembaga menghambat sistem kekebalan sea-fan terhadap parasit-parasit perusak; suku dan tembaga mempengaruhi interaksi inang-pathogen di oktoral-oktoral melalui modulasi kekebalan, keparahan wabah / penyakit, dan pemulihan dari wabah.

Riset Allison M. Tracy dkk (2019) menghasilkan data baru tentang peran pemicu stres lingkungan terhadap penyakit karang dan pilihan solusinya pada skala lokal atau per wilayah daerah. (Science Daily, 19/11/2019).  

“We can't manage the climate damage to coral reefs until we better understand how pollution and disease magnify the impacts of heat stress. Although healthy corals in thriving ecosystems also experience low levels of disease, the concern is that changing ocean conditions and increased pollution have led to increased disease outbreaks. As a result, corals may be losing the battle with their pathogens as ocean stressors tip the balance in favor of disease,” papar Profesor C. Drew Harvell. (Blaine Friedlander / Cornell University, 19/11/2019).

Proyek riset itu melibatkan Profesor Ernesto Weil adalah ahli sains kelautan pada University of Puerto Rico at Mayagüez adalah co-author studi ilmiah itu yang berkolaborasi melakukan survei bersama dengan Allison M. Tracy, PhD, dan Profesor Harvell; Weil, Allison M. Tracy, PhD, dan Profesor Harvell melakukan uji-coba eksperimen ilmiah dalam proyek riset itu pada Isla Magueyes Laboratories dari UPRM.

Proyek riset itu didanai oleh National Science Foundation, Cornel Atkinson Center for Sustainability, The American Academy of Underwater Sciences, The Andrew W. Mellon Foundation, dan Department of Ecology and Evolution Biology dari Cornell University. 

Oleh: Servas Pandur