• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Vaksinasi Kelinci Hasilkan Antibodi Terhadap Virus HIV

Kelinci, yang divaksinasi HIV uji-coba, menghasilkan anti-bodi penawar terhadap dua situs virus HIV yang rentan terhadap HIV. Begitu hasil kolaborasi riset eksperimental ahli vaksin pada Scripps Research (Amerika Serikat), National Institute of Allergy and Infectious Diseases di Maryland (Amerika Serikat), Karolinska Institutet di Stockholm (Swedia), Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle (Amerika Serikat). Hasil riset itu dirilis oleh jurnal Immunity edisi 19 November 2019. (Dubrovskaya et al., 2019).

Hasil riset eksperimental itu membawa harapan baru bahwa para ahli semakin maju mengembangkan vaksin mujarab terhadap HIV yang sangat cepat bermutasi dan menghindari dari kekebalan tubuh. Riset tim ahli itu menghasilkan antibodi pada kelinci yang mampu menetralisir berbagai jenis HIV (broadly neutralizing antibodies / bNAbs). Vaksin bnAbs mampu menetralisir beragam strain HIV karena vaksin bnAbs terikat pada situs-situs penting virus HIV yang tidak banyak berbeda dari strain ke strain.

"It's an initial proof of principle but an important one, and we're now working to optimize this vaccine design," ungkap senior author studi ilmiah ini, Profesor Richard Wyatt, PhD, asal Department of Immunology and Microbiology, Scripps Research Institute (Scripps Research Institute, 20/11/2019).

Sejak virus HIV ditemukan tahun 1983, para ahli berupaya membuat vaksin HIV yang murajab. UNAIDS (2019) merilis laporan bahwa sekitar 38 juta orang di seluruh dunia, telah terjangkit virus HIV. Obat antivirus (antiviral drugs) dapat melindungi agar pasien bertahan-hidup dan mengurangi penularan virus HIV ke orang lain; namun, jenis obat semacam ini tidak menghilangkan infeksi dan pasien harus meminum obat ini tanpa batas waktu jelas.

Selama ini, elisitasi – cara alamiah kekebalan inang terhadap patogen -- bNAbs (broadly neutralizing antibodies) terhadap 3 (tiga) trimer (bagian) envelope glycoprotein (Env) HIV-1, masih menjadi tantangan bagi peneliti vaksin HIV. Sebagian besar determinan protein konservasi-silang dihambat oleh prisai self-N-glycan, yang membatasi pengenalan sel B terhadap permukaan dasar polypeptide. Kekecualian dari prisai glycan ini ialah situs pengikatan CD4 reseptor yang dikonservasi (conserved receptor CD4 binding site / CD4bs) dan (gp/ glikoprotein) 41 elemen-elemen proksimal dengan situs pemotongan furin (furin cleavage).  

Karena itu, tim ahli itu melakukan prime trimer-liposome heterolog : Meningkatkan (boosting) pada kelinci-kelinci guna memacu sel-sel B khusus untuk situs-situs konservasi-silang. Untuk mengekspos CD4b ke sel B, tim peneliti menghilangkan proksimal N-glikans sambil mempertahankan kondisi mirip-asli dari trimer-trimen NFL independen-pembelahan, yang diikuti oleh restorasi N-glikus bertahap dan peningkatan heterolog (heterologous boosting).

Cara itu berhasil mengelisitasi CD4bs terarah, netralisasi-silang Abs, termasuk satu target unik epitop glycanprotein dan bNAb (luasnya 87%) ke arah antarmuka gp120: gp41 melalui mikroskop cryoelectron beresolusi tinggi. Sehingga penelitian ini membuktikan prinsip imunogenisitas ke arah elisitasi bNAb melalui vaksinasi.

Orang-orang yang terinfeksi HIV kadang-kadnag menghasilkan bnAbs sebagai bagian dari respons kekebalan-tubuh atau antibodi. Namun, sering dan biasanya bnAbs itu terjadi usai infeksi sudah lama. Maka tantangan bagi peneliti vaksin HIV selama ini ialah menemukan cara rangsang sistem kekebalan atau pembentukan bnAbs, yang menyerang situs-situs ancaman virus HIV.

Profesor Richard Wyatt, PhD, dan koleganya mendesain suatu virus mirip protein berbasis protein ‘Env’ HIV. Biasanya, banyak salinan protein-protein Env menyebar pada permukaan tiap partikel HIV.Tiap protein Env mengandung satu mekanisme molekul yang terikat dengan satu reseptor pada sel-sel imun (CD4) dan menggunakan reseptor itu sebagai portal menyusup ke dalam sel-sel imun (CD4). 

Tim peneliti itu merekayasa satu Env yang mirip struktur pokok dan dasar Env sebenarnya atau riil hingga kondisi cukup stabil sebagai satu vaksin. Agar rekayasanya menyerupai partikel virus HIV nyata, tim peneliti itu menciptakan bentuk-bentuk sintetik ukuran virus dari molekul-molekul berbahan lemak (liposomes) yang dipadatkan dengan protein-protein Env rekayasa.

Pada suatu protein Env alamiah, kumpulan molekul gula (glycan) biasanya melindungi situs pengikatan CD4 sangat penting dari serangan kekebalan.  Sebagai imunisasi tahap dasar dan awal, para peneliti menggunakan versi Env—-sebagian perisai glycan di sekitar situs pengikatan CD4 telah dihapus.

Tim peneliti itu menginokulasi 12 kelinci dalam rangka eksperimen vaksin HIV dan membandingkan hasilnya dengan kelompok kelinci kontrol yang hanya menerima satu versi perisai glycan terhadap Env. Hasilnya, respons terhadap metode vaksin itu lebih baik; misalnya, 5 kelinci menghasilkan anti-bodi dan mampu menetralisir beragam isolasi-isolasi HIV.

 “The idea was to better expose this site and thereby stimulate a broad antibody reaction to it at the start,” ungkap ungkap Profesor Richard Wyatt, PhD. (Scripps Research Institute, 20/11/2019).

Proyek riset itu didanai oleh  National Institutes of Health (P01 AI104722, R01 AI136621, UM1 AI100663), Bill and Melinda Gates Foundation Collaboration for AIDS Vaccine Discovery (OPP1115782, OPP1084519) dan IAVI.

Proyek riset itu melibatkan sejumlah ahli yaitu (1)Viktoriya Dubrovskaya asal Department of Immunology and Microbiology, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat; (2) Karen Tran asal International AIDS Vaccine Initiative, Neutralizing Antibody Center, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat; (3) Gabriel Ozorowski, PhD, asal Department of Integrative Structural and Computational Biology, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat. Ketiga peneliti-ahli ini memberi kontribusi setara untuk studi ilmiah itu.

(4) Javier Guenaga asal International AIDS Vaccine Initiative, Neutralizing Antibody Center at The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat; (5) Richard Wilson asal Department of Immunology and Microbiology, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat; (6) Shridhar Bale asal Department of Immunology and Microbiology, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat;

(7) Christopher A. Cottrell asal Department of Integrative Structural and Computational Biology, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat; (8) Hannah L. Turner asal Department of Integrative Structural and Computational Biology, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat; (9) Gemma Seabright asal School of Biological Sciences, University of Southampton, Southampton, Inggris;

(10) Sijy O’Dell asal Vaccine Research Center, National Institute of Allergy and Infectious Diseases, NIH, Bethesda, MD 20892, Amerika Serikat; (11) Jonathan L. Torres asal Department of Integrative Structural and Computational Biology, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat; (12) Lifei Yang asal International AIDS Vaccine Initiative, Neutralizing Antibody Center at The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat;

(13) Yu Feng asal International AIDS Vaccine Initiative, Neutralizing Antibody Center at The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat; (14) Daniel P. Leaman asal Department of Immunology and Microbiology, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat; (15) Ne´ stor Va´ zquez Bernat asal Department of Microbiology, Tumor and Cell Biology, Karolinska Institutet, Stockholm 171 77, Swedia;

(16) Tyler Liban asal Vaccine and Infectious Disease Division, Fred Hutchinson Cancer Research Center, Seattle, WA 98109, Amerika Serikat; (17) Mark Louder asal Vaccine Research Center, National Institute of Allergy and Infectious Diseases, NIH, Bethesda, MD 20892, Amerika Serikat; (18) Krisha McKee asal Vaccine Research Center, National Institute of Allergy and Infectious Diseases, NIH, Bethesda, MD 20892, Amerika Serikat;

(19) Robert T. Bailer asal Vaccine Research Center, National Institute of Allergy and Infectious Diseases, NIH, Bethesda, MD 20892, Amerika Serikat; (20) Arlette Movsesyan asal Department of Immunology and Microbiology, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat; (21) Nicole A. Doria-Rose asal Vaccine Research Center, National Institute of Allergy and Infectious Diseases, NIH, Bethesda, MD 20892, Amerika Serikat;

(22) Marie Pancera asal Vaccine and Infectious Disease Division, Fred Hutchinson Cancer Research Center, Seattle, WA 98109, Amerika Serikat; (23) Gunilla B. Karlsson Hedestam asal Department of Microbiology, Tumor and Cell Biology, Karolinska Institutet, Stockholm 171 77, Swedia; (24) Michael B. Zwick asal Department of Immunology and Microbiology, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat;

(25) Max Crispin asal School of Biological Sciences, University of Southampton, Southampton, Inggris; (26) John R. Mascola asal Vaccine Research Center, National Institute of Allergy and Infectious Diseases, NIH, Bethesda, MD 20892, Amerika Serikat; (27)

Andrew B. Ward asal International AIDS Vaccine Initiative, Neutralizing Antibody Center at The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat; Department of Integrative Structural and Computational Biology, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat; dan Center for HIV/AIDS Vaccine Immunology and Immunogen Discovery, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat;

(28) Richard T. Wyatt (lead-contact) asal Department of Immunology and Microbiology, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat; International AIDS Vaccine Initiative, Neutralizing Antibody Center at The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat; dan Center for HIV/AIDS Vaccine Immunology and Immunogen Discovery, The Scripps Research Institute, La Jolla, CA 92037, Amerika Serikat. 

 

 

Oleh: Servas Pandur