• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Cincin Tata-Kelola Sampah Zona-Zona Destinasi Wisata (3)

“As Tourism Rises in Bali, What to Do With Waste?” Ketika terjadi lonjakan wisata di Bali, bagaimana mengelola sampah? Begitu Erica Gies dari kota San Fransisco, Amerika Serikat, menulis laporan khusus perihal bisnis ramah-lingkungan (business of green) pada harian The New York Times edisi 25 Mei tahun 2009.

Tahun 2009, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali merilis jumlah kunjungan wisata sebanyak 2. 385.122 turis; tahun 2008 sebanyak 2. 085. 084 turis; tahun 2007 sebanyak 1 668 531 turis; dan tahun 2006 sebanyak 1 262 537 turis. Sedangkan jumlah kunjungan wisata tahun 2018 ke Bali mencapai 6 070 473 dan periode Januari-September 2019 mencapai 4 672 230 turis.

Erica Gies (2009) melukiskan Bali telah meraih reputasi sebagai idola tropis. Di sisi lain, Bali terancam oleh risiko sampah-sampah, khususnya sampah plastik. Dari hasil investigasi dan wawancara banyak pihak, Erica Gies (2009) menemukan ada dua siasat tata-kelola sampah yang bertentangan di Bali saat itu. Yakni tata-kelola sampah berbasis masyarakat, melalui partisipasi lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan tata-kelola sampah berbasis industri.

Bali Fokus (LSM) melihat bahwa solusi sampah di Bali berbasis masyarakat; tata-kelola sampah adalah peluang lapangan kerja dan pemberdayaan masyarakat; ada peluang edukasi masyarakat tentang sadar dan ramah-lingkungan; serta isu lingkungan teratasi.

Sedangkan Navigat Organic Energy Indonesia asal Jakarta, menawarkan solusi melalui teknologi dan industri. Tahun 2007, Navigat Organic mendapat dukungan melalui Clean Development Mechanism (CDM) dari Kyoto Protocol yang menawarkan carbon credit yang dapat dijual oleh perusahan ke pasar (open market).

Tawaran Navigat untuk carbon credit ialah proyek tata-kelola sampah itu akan mengurangi gas rumah kaca dengan menghancurkan methane dan memasok energi yang dihasilkan dari limbah ke jaringan pembangkit listrik lokal guna menggantikan daya dari bahan bakar fosil.

Menurut Erica Gies (2009), program tata-kelola sampah berbasis desa dan masyarakat dari Bali Fokus juga mengurangi methane, namun sulit mendapat kredit karbon melalui CDM.

Hingga tahun 2009, menurut Erica Gies (2009), Bali Fokus maupun Navigat ternyata tidak dapat mengatasi sampah di Pulau Bali. “For now, neither Bali Fokus nor Navigat can handle all the island’s waste, and the trash mountains are continuing to grow,” tulis Erica Gies (2009).

Kini 10 tahun kemudian, jelang akhir 2019, ‘perkiraan’ Erica Gies (2009) terbukti. Ian Lloyd Neubauer merilis laporan ke Nikkei Asian Review edisi 10 Juli 2019 : ‘For Bali, tourism is a rubbish issue; Indonesian island bans single-use plastics and pilots recycling plants.” Isu pokok wisata Bali ialah risiko sampah.

Dari Kuala Lumpur, Malaysia, Michael Taylor merilis laporannya tentang upaya mengatasi sampah plastik di Pulau Bali pada edisi Reuters 20 Juni 2019. Michael Taylor (2019) menyebut hasil riset Bali Partnership selama 5 (lima) bulan bahwa kurang dari setengah sampah di pulau wisata di Bali didaur-ulang atau penimbunan; ribuan ton sampah dibakar atau dibuang di sungai dan laut.

Organisasi Bali Partnership—didukung oleh Norwegia—berupaya melibatkan Pemerintah Pusat RI, Pemda, akademisi, ahli limbah dan sektor bisnis dalam upaya mengurangi sampah plastik di laut kira-ira 70% tahun 2025.

Amanda Tazkia Siddharta dari National Geographic, 14 Oktober 2019, merilis laporan tentang upaya Bali merawat pantai-pantai indahnya dengan melawan risiko sampah, sampah plastik. Bahwa sekitar 33.000 ton sampah plastik berakhir di laut tiap tahun di Bali. Di sisi lain, risiko ini kian besar jika sampah (sampah plastik) tidak dikelola secara berkelanjutan. Tahun 1996, sekitar 1,1 juta turis berkunjung ke Bali; jumlah itu terus meningkat hingga tahun 2018.

Amanda Tazkia Siddharta (2019) menyebut upaya Gubernur Bali Wayan Koster akhir 2018 yang melarang penggunaan kantong plastik, polystyrene, dan sedotan plastik; Pemda Bali juga mengubah TPA terbesar di Bali, TPA Suwung seluas 80 are di ibukota Denpasar, menjadi taman ramah lingkungan dan pembangkit listrik limbah.

***

Isu sampah pada tiap destinasi wisata Negara RI ke depan tentu saja penting. Senin sore (15/7/2019) di Kantor Presiden, Jakarta, Presiden RI Joko Widodo, yang didampingi oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, memimpin Rapat Terbatas tentang Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas, 10 Bali Baru. (Humas Setkab RI, 15/7/2019).

Presiden RI Joko Widodo merilis 5 (lima) program prioritas hingga tahun 2020 dalam pengembangan destinasi 10 Bali Baru yakni (1) pengaturan dan pengendalian tata-ruang; (2) pembangunan konektivitas (infrastruktur); (3) fasilitas wisata; (4) sumber daya manusia; dan (5) produk-produk lokal di zona-zona destinasi wisata.

Laporan National Geographic (2019) memperkirakan bahwa seorang turis atau wisatawan diperkirakan membuang sekitar 1,7 kg sampah per hari. Jika melihat tren lonjakan wisata di berbagai negara akhir-akhir ini, tata-kelola sampah menjadi semakin urgen dan strategis.

Isu sampah telah menjadi agenda dan isu global. Negara-negara G2, misalnya, berupaya mengatasi limbah plastik di perairan laut Asia Pasifik khususnya karena produsen petrokimia berkembang pesat di Asia. Begitu antara lain hasil Pertemuan negara-negara G20 pada 28-29 Juni di Osaka, Jepang (Malcolm Foster, 13/6/2019).

Tantangannya tentu tidak mudah, karena Jepang, misalnya, meskipun bukan sumber pencemar plastik utama lautan, namun konsumen nomor dua terbesar produk-produk berbahan plastik ialah Jepang, setelah Amerika Serikat. (Reuters, 13/6/2019).

Menurut laporan jurnal Science Advances (2016), seluruh dunia memproduksi 380 juta ton plastik tahun 2015; sekitar 25% dari jumlah itu dibakar dan 20% didaur-ulang; namun, sejak manusia mengenal bahan produk plastik tahun 1950-an, diperkirakan hanya 9% kumulatif didaur-ulang hingga tahun 2015; sedangkan hasil riset Bank Dunia menyebut, manusia menghasilkan 242 juta ton sampah plastik tahun 2016.     

Sedangkan Uni Eropa telah melarang 10 barang produk dari bahan plastik, termasuk sedotan, garpu, pisau, dan lain-lain hingga tahun 2021. Tahun 2030, untuk semua kemasan plastik, sumber utama limbah plastik, harus dapat didaur-ulang. (EU, 2019).

Di Asia, asosiasi hotel destinasi wisata Phuket, Thailand, merencanakan penggunaan botol air plastik dan sedotan minuman dari bahan plastik berakhir tahun 2019. Karena tahun 2004, misalnya, resort hotel Lark di Phuket dengan 40 vila membuang sekitar 250.000 botol air dari plastik per tahun. Kini resort ini beralih ke botol kaca (Michael Taylor, 17/8/2018).

Phuket di Thailand, sama dengan pesona Bali di Negara RI dan  Boracay di Filipina. Isu sama ketiga destinasi wisata ini ialah tata-kelola sampah. Maka muncul inovasi dan kreasi di Manila, Filipina, yakni membangun taman bunga tulip dari 26.877 botol plastik yang dkumpulkan dari 45 desa sekitar kota Lamitan City di Basilan, Filipina. Targetnya ialah mengundang wisata datang ke sana (Jay Ereno et al, 25/9/2019).

Upaya menjadikan sampah plastik sebagai taman bunga tulip guna menarik wisata dan melawan sampah bukan melulu inovasi di Filipina. Wirausaha asal Prancis, Eric Becker, baru-baru ini berhasil membangun pulau resort terapung di lepas Pantai Gading, Afrika. Pulau resort terapung itu dibuat dan dibangun dari 700.000 botol plastik. Wisatawan dapat menginap di sana dengan biaya 100 dollar AS per malam atau 25 dollar AS perjalanan sehari, termasuk makan (The Daily Mail, 2019).

Pulau resort terapung-- L'île Flottante – dengan bobot 200 ton, memiliki fasilitas listrik tenaga surya dan pasokan air tawar dari daratan; lagunanya sangat dekat dengan Abidjan, ibukota Pantai Gading. Pulau terapung itu memiliki fasilitas hotel, restoran, bar, karakoke, dan dua kolam renang. (Sophia Ankel, The Insider, 2019; Ian Randall, 18/11/2019). 

Apa rahasia dari konsep, visi dan misi Becker? Tidak lain dari mengubah sesuatu yang negatif – polusi dan sampah – menjadi sesuatu yang positif atau bernilai bagi manusia, kehidupan, ekonomi, dan lingkungan. Ini adalah contoh tata-kelola destinasi wisata dengan sistem 3 (tiga) cincin secara terukur, terarah, terkontrol, dan berkelanjutan secara sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup.

Oleh: Komarudin Watubun