• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Cincin Tata-Kelola E-Waste : Tambang Sampah Elektronik-Listrik (4)

Kamis (24/1/2019), dari Davos (Swiss), United Nations University merilis laporan bahwa akhir-akhir ini, manusia di planet Bumi membuang sekitar 50 juta ton limbah atau sampah elektronik dan sampah / limbah listrik (e-waste) per tahun hingga tahun 2018. Jumlah itu kira-kira lebih besar daripada berat semua pesawat komersial yang diproduksi oleh manusia di planet Bumi.

Nilai 50 juta ton e-waste per tahun itu berkisar 62,5 miliar dollar AS; namun, hanya 20% benar-benar didaur ulang. Jika tidak ada upaya konkrit mengupayakan daur-ulang e-waste, maka total e-waste bakal mencapai 120 juta ton per tahun pada tahun 2050. Begitu rilis laporan riset dan kajian United Nations University judul :  "A New Circular Vision for Electronics - Time for a Global Reboot".

Di Tiongkok, sekitar 600.000 warga bekerja di sektor pembuangan e-waste dengan risiko kesehatan dan lingkungan; data International Labour Organizatin (ILO, 2019) menyebutkan bahwa di Nigeria (Afrika), sekitar 100.000 warga per tahun bekerja di sektor informal e-waste. Pemerintah Nigeria berupaya melegalkan pekerjaan ini dengan jaminan keamanan dan kelayakan pekerjaan guna mengelola nilai ekonomis, sosial, dan lingkungan dari sekitar 500.000 ton limbah elektronik di Nigeria saat ini.

***

Ahli-ahli ekonomi menyebut istilah ‘circular economy’ – yakni resirkulasi sumber-sumber daya (recycle dan re-use) atau daur-ulang sampah-sampah agar bernilai sosial-ekonomi. Selama ini sampah elektronik (e-waste), misalnya rongsokan televisi, komputer, ponsel, dan sejenisnya, tumbuh pesat di berbagai negara, termasuk di Negara RI. Bertahun-tahun pula, pemulung dan pendaur ulang mengambil bagian-bagiannya, misalnya logam, dari aliran limbah ini. Ini sudah memenuhi unsur cincin keberlanjutan ekonomis dan juga sosial, yang membuka lapangan kerja yang aman untuk hidup layak.

Akhir-akhir ini, ekonomi berkelanjutan atau sirkular itu memasuki fase baru yakni ‘pertambangan kota-kota’ atau urban-mining; yakni mengumpulkan sampah-sampah elektronik dan listrik di kota-kota guna didaur-ulang dan dijual lagi ke konsumen.

April 2018, Dr. Zeng Xianlai asal State Key Joint Laboratory of Environment Simulation and Pollution Control, School of Environment, Tsinghua University di Beijing (Tiongkok), dan koleganya – John A. Mathews (asal Macquarie Graduate School of Management, Macquarie  University di Sydney, Australia) dan Jinhui Li – meneliti perbandingan biaya penambangan (esktraksi) logam dengan biaya daur-ulang logam asal limbah elektronik (e-waste) pada 8 (delapan) perusahaan daur-ulang di Tiongkok.

Dr. Zeng Xianlai dkk (2018) menghitung biaya pengumpulan sampah elektronik dan listrik, tenaga kerja, energi, material, transportasi, dan biaya modal peralatan dan bangunan daur ulang. Biaya-biaya ini diimbangi oleh subsidi dari Pemerintah dan pendapatan dari hasil penjualan bahan dan komponen daur ulang.

Hasil riset dan kajian Dr. Zeng Xianlai dkk (2018) menemukan bahwa dengan biaya subsidi itu, penambangan dari bijih besi lebih mahal hampir 13 kali lipat dari ‘pertambangan kota’ atau proyek daur ulang sampah elektronik dan listrik. Hasil riset tim ahli itu dirilis oleh jurnal Environmental Science & Technology edisi April 2018.

Maka kini tiba saatnya, inovasi dan teknologi ramah-lingkungan dapat diterapkan untuk tata-kelola limbah elektronik di Negara RI agar bernilai sosial, ekonomi, dan lingkungan bagi Bangsa dan Negara.

Hasil riset-riset ilmiah (Zeng Hianlai et al, 2018), misalnya, menemukan bahwa TV tabung sinar katoda mengandung satu pon tembaga, lebih dari setengah pon aluminium dan menampung 0,02 ons emas.

***

Akhir Februari 2019, sejumlah ahli dari Ehime University meneliti kandungan dioksin-dioksin dari pengolahan sampah elektronik dan listrik melalui pembakaran terbuka di Ghana, Afrika. Riset dan kajian tim ahli itu dirilis oleh jurnal Environmental Science & Technology edisi Februari 2019. (Nguyen Minh Tue, et al., 2019).

Hasilnya, sampah elektronik dan listrik (waste electronic and electrical equipment / WEEE) mencakup perangkat komunikasi, elektronik, dan peralatan rumah tangga; limbah elektronik mengandung logam mulai yang dapat didaur ulang; tetapi, jenis limbah ini termasuk kategori berisiko atau berbahaya dari zat beracun (logam berat) dan aditif plastik.

Jika daur ulang tidak tepat, khususnya di Asia dan Afrika melalui pemanasan papan sirkuit dan pembakaran terbuka, maka risikonya pencemaran lingkungan akibat emisi kontaminan dan bahan kimia beracun sekunder; senyawa dioksi adalah kontaminan tanpa sengaja dihasilkan selama pengolahan sampah elektronik secara tidak tepat dengan dampak potensi toksik. (Nguyen Minh Tue, et al., 2019).

Sejak 2018, Uni Eropa merilis program ‘Urban Mine Platform’. Targetnya, menambang sekitar 2 (dua) juta ton baterai per tahun; targetnya ialah hidrida nikel-logam, berbasis seng dan berbasis lithium yang merupakan sumber lithium (7.800 ton), kobalt (21.000 ton) dan mangan (114.000 ton); jumlah itu belum termasuk 7-8 juta ton kendaraan habis masa pakai di Uni Eropa. Dari sini lahir megaproyek ‘urban mining’. Proyek dan program semacam ini perlu digalakkan di kota-kota Negara RI agar bernilai sosial, ekonomi, dan lingkungan sejak awal abad 21. 

Oleh: Komarudin Watubun