• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Cincin Tata-Kelola Sampah : Peluang Energinomic Sampah

Kini telah lahir era baru dunia: energinomic berbasis sampah! ‘Trash to Treasure!” Sampah menjadi harta karun! Begitu para ahli akhir-akhir ini menyimpulkan hasil berbagai riset peluang tata kelola daur ulang sampah-sampah di berbagai negara. Misalnya, ahli-ahli asal Uni Eropa menyebutnya : ‘mining waste’ atau pertambangan sampah dan ‘urban-mining’ dari ‘harta-karun sampah’ misalnya alat elektronik, sampah listrik, bateri, sampah kendaraan, dan limbah pertambangan. (United Nations University, 17/1/2018).

Akhir November 2018, ilmuwan asal Lithuania, Dr. Aras Kantautas asal KTU Faculty of Chemical Technology, Danute Vaiciukyniene asal  KTU Faculty of Civil Engineering and Architecture, dan Dalia Nizeviciene, merilis penemuan baru berupa plester (bahan pengikat gipsum) kuat dari bahan limbah industri. (Kaunas University of Technology, 27/11/2018).

Peluang investasi terbuka bagi penemuan Dr. Aras Kantautas dkk (2018). Karena sekitar 5 ton phosphogypsum dihasilkan per ton produksi asam fosfat dan hasil phosphogypsum di seluruh dunia berkisar 100-280 MT per tahun. Di Lithuania, perusahaan industri fosfat, Lifosa, memproduksi hampir 500 ribu ton asam fosfat dan 4-5 kali lipat dari phosphogypsum, yang diangkut ke pembuangan limbah tiap tahun.

Di Amerika Serikat (AS), kantor Office of Energy Efficiency and Renewable Energy pada U.S. Department of Energy (DOE) mendanai tiap riset awal dan pengembangan efisiensi energi dan teknologi energi terbarukan. Tujuannya ialah efisiensi energi yang terjangkau oleh daya beli Rakyat AS dan memperkuat kehandalan, ketahanan dan keamanan jaringan listrik di seluruh AS. (DOE, 25/8/2017).

Tahun 2017, DOE mendanai riset teknologi olah sampah organik menjadi sumber energi terbarukan di AS. Sampah organik dapat berasal dari hiasan pekarangan, kertas, kayu, dan makanan. Misalnya, sampah makanan menghasilkan jutaan ton emisi metana di tempat pembuangan sampah di AS tiap tahun. Di sisi lain, sampah organik ini dapat diolah atau didaur ulang guna menghasilkan gas alam terbarukan dan bahan bakar cair misalnya bensin dan diesel.

Untuk itu, DOE mendanai riset mahasiswa post-doctoral Uisung Lee asal Argonne National Laboratory pada DOE  dan koleganya (2017) guna menghasilkan gas alam terbarukan (renewable natural gas) dan bahan bahar cair misalnya gasoline dan diesel. Selama ini, cara menghasilkan bahan bakar dari sampah kota antara lain biokimiawi, seperti digesi dan fermentasi anaerob, dan termokimia, seperti pencairan hidrotermal, pirolisis, dan gasifikasi. Produk-produk energi yang dihasilkan termasuk gas alam terbarukan, bio-char, bio-oil dan bahan bakar hidrokarbon (bensin, solar dan bahan bakar jet).

Hasil riset Uisung Lee dkk (2017) dirilis oleh jurnal Journal of Cleaner Production edisi Agustus 2017. Kesimpulan dan penemuan bermanfaat dari riset Uisung Lee dkk (2017) antara lain pengolahan sampah menjadi energi dapat mengurangi pelepasan metana konsentrasi tinggi pada tempat pembuangan sampah kira-kira 30 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan karbon-dioksisa secara global; tersedia bahan bakar ramah-lingkungan dan mengurangi emisi gas rumah kaca dari sampah.

Peluang daur ulang sampah makanan menjadi sumber energi atau peluang ‘energinomic’ tersebut di atas sangat besar di AS. Karena tahun 2014, misalnya, sekitar 32 juta metrik ton sumber daya limbah makanan dibuang ke tempat pembuangan sampah; tahun 2015, jumlah emisi gas rumah kaca dari tempat pembuangan sampah di AS setara dengan 116 juta metrik ton karbon-dioksida; jumlah itu, menurut hasil riset statistik Uising Lee dkk (2017), setara dengan potensi pemanasan global yang berasal dari 29 juta mobil penumpang dengan rata-rata 26 mil per galon dan jarah sejauh 12.000 mil per tahun.

***

Tahun 2014, Profesor Animesh Dutta, ahli rekayasa dan inovasi biologi dan direktur Bio-Renewable Innovation Lab (BRIL) University of Guelph (Kanada), memimpin riset mendaur-ulang limbah pertanian menjadi biofuel dengan teknik : “pressure cooking”. Hasilnya ialah ‘cooking-farm-waste’ atau pertanian ‘memasak’ limbah dapat menghasilkan bahan mudah diangkut, tidak berisiko degradasi, dan dapat digunakan oleh pabrik produsen energi biofuel. Hasil riset Profesor Dutta dkk dirilis oleh jurnal Applied Energy Desember 2014.

Peluang teknik ‘pressure cooking’ itu sangat besar secara ekonomis dan bernilai secara sosial dan lingkungan. Karena selama ini, limbah ‘basah’ pertanian lazimnya sulit diangkut, berisiko degradasi, dan sulit digunakan khususnya bahan sumber energi.

Di sisi lain, para  ilmuwan berupaya menemukan manfaat limbah basah dan hijau, misalnya sekam jagung, tanaman tomat dan pupuk kandang. Limbah pertanian kering, seperti serpihan kayu atau serbuk gergaji, lebih mudah digunakan untuk menghasilkan daya atau sumber energi. Seringkali, bahan limbah pertanian basah rusak sebelum mencapai dapat digunakan sebagai bahan sumber energi.

Hasil riset Profesor Dutta dkk (2014) menemukan teknik ‘farm-waste’ agar limbah basah dari pertanian mudah diangkut dan mudah didaur-ulang menjadi energi. Para petani memiliki peluang ekonomi dan merawat lingkungan.Hasil uji lab riset itu menunjukkan bahwa biofuel yang dapat dihasilkan dari ‘farm-cooking waste’ itu setara dengan jumlah energi dari batu bara.

Investasi sektor ‘farm-cooking waste’ dari Profesor Dutta dkk (2014) tersebut di atas menghasilkan formula energinomic yang efisien, ramah lingkungan, dan bernilai sosial-ekonomi bagi para petani. Ini pula contoh cincin sosial-ekonomi-lingkungan tata-kelola sampah.

Awal 2019, Profesor Linda Wang asal Maxine Spencer Nichols pada Davidson School of Chemical Engineering, Purdue University di Indiana (AS), memimpin tim peneliti teknologi mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar bersih dan ramah-lingkungan (clean fuels) dan produk-produk lainnya. Bahan bakunya ialah limbah poliolefin untuk bahan bakar bersih dan ramah lingkungan. Hasil riset Profesor Linda Wang dkk dirilis oleh jurnal Sustainable Chemistry and Engineering edisi Januari 2019.

Peluang investasi energinomic sektor plastik dari hasil riset Profesor Linda Wang dkk (2019) sangat terbuka. Karena data Perserikatan Bangsa-Bangsa (2018) misalnya menyebutkan bahwa sekitar 8 juta ton sampah masuk ke laut, air tahan, dan lingkungan di planet Bumi tiap tahun yang memicu risiko lingkungan, kesehatan manusia, dan risiko lain. Total plastik yang diproduksi manusia selama 65 tahun terakhir berkisar 8,3 miliar ton. Hanya 12% dari jumlah itu dibakar, 9% didaur-ulang dan sisanya masuk ke air tanah dan laut.

Teknologi hasil karya Profesor Linda Wang dkk (2019) dapat mengolah limbah poliolefin (polyolefin waste), satu jenis bentuk plastik, menjadi produk-produk bahan bakar bersih-ramah lingkungan, polymers, naphtha (campuran hydrocarbon), dan lain-lain yang bernilai ekonomis, sosial, dan lingkungan.

***

Bagi Negara RI dan Bangsa Indonesia kini dan ke depan, energinomic berbasis sampah yang bernilai sosial, ekonomi dan lingkungan adalah pilihan ideal dan strategis. Ideal sesuai amanat alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 yakni tugas Pemerintah Neagara RI melindungi segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah; mencerdaskan kehidupan Bangsa dan memajukan kesejahteraan umum; menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Negara RI terdiri dari lebih dari 17.000 pulau; Negara RI dikelilingi oleh laut dan lautan; kita baca hasil riset Agung Dhamar Syaktia asal Center for Maritime Biosciences Studies – Institute for Sciences and Community Service, Jenderal Soedirman University, dkk yang dirilis oleh jurnal Marine Pollution Bulletin (2017). Bahwa konsentrasi sampah bahan plastik sangat tinggi di Pantai Cilacap, Negara RI. Sampah di pantai ini disurvei oleh Agung Dhamar Syaktia dkk (2017). Hasilnya, sebanya 75% dari 2.313 item sampah berbahan plastik—ukuran, bentuk, dan warna mikro-plastik terkait struktur polymer dengan risiko kontaminasi mikro-plastik di zona Cilacap.

Berikutnya, hasil riset Chelsea M. Rochman dkk yang dirilis oleh Scientific Reports (2015) menemukan sampah antropogenik ditemukan pada 28% ikan individual dan 55% dari semua spesies dari sampel-sampel pasar di Makassar, Negara RI. Sampah antropogenik yang ditemukan dari ikan pasar Makassar itu berasal dari bahan plastik.

Maka kini tiba saatnya, Pemerintah RI khususnya mendanai riset dan pengembangan teknologi daur-ulang plastik dan berbagai jenis sampah lainnya guna menghasilkan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan; pilihannya ialah energinomic berbahan baku sampah yang bernilai sosial, ekonomi, dan lingkungan sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945 sejak kini awal abad 21. 

Oleh: Komarudin Watubun